6

Drama Belajar Daring Bermodalkan Tugas

Drama belajar daring bermodalkan tugas yang membuat mahmud abas (MAMAH MUDA ANAK BARU SATU) ini kelimpungan. Tugasnya luar biasa untuk anak esde kelas satu. Dalam sehari, siswa-siswi memenuhi tuntutan guru menyelesaikan sekitaran 15 nomor tugas untuk satu mata pelajaran.

Waktu gue tanya wali kelas Ucupyo kenapa tugasnya sungguh mencengangkan? Kata beliau karena mengikuti tuntutan kurikulum. Ya sud lah yaa, kalau ngomongin kurikulum, artinya emang kebijakan pusat.

Sekarang adalah tugas ayah bunda di rumah membimbing anak agar menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan benar dan tepat waktu *nangis*.

Tepat pukul 7 pagi, tugas sekolahan mulai launching melalui whatsapp group. Tergantung guru mapelnya nih, kapan batas pengumpulan tugas. Sometimes, ngasih waktu sampe batas jam 9 pagi kumpulnya. Ada juga guru mapel yang ngasih tugas, terus kumpulnya sekali seminggu. Kumpul tugasnya offline, buuund. Bukan online.

Pernah Ucupyo masuk sekolah luring. Tatap muka bersama teman dan guru-gurunya. Doi happy banget doong. Secara guru-gurunya menganggap Ucupyo (dan murid kelas satu lainnya) seperti anak sendiri atau cucu sendiri. Anak-anak tuh nyaman.

Setiap hari doi bangun pagi dan langsung minta mandi lalu bersiap ke sekolah. Berbeda ketika jaman daring. Bayangan akan bertemu ibu guru Rrrrrraya yang galaknya ampun-ampunan membuat Ucupyo, untuk membuka mata di pagi hari saja auto malas, apalagi harus belajar, wkwk.

Kurang lebih enam atau tujuh bulanan-lah kalau tak salah ingat, Ucupyo menjalani sekolah luring. Lalu bagaikan mimpi buruk memenuhi alam tidurnya, sekolah kembali menerapkan belajar daring, ketika virus covid kembali mengganas di Kota Kendari.

Welcome To The Jungle, Ucupyo 

Ucupyo sempat mencak-mencak waktu mendengar kabar amat sangat buruk bahwa sekolahan menerapkan belajar daring a.k.a belajar di rumah saja. Bayangan akan bermain bersama teman sekelasnya pupus sudah. Tergantikan oleh bayangan belajar sambil bermain bersama ibu guru Rrrrrraya, hahhaha.

Ucupyo adalah salah satu anak yang tipe belajarnya menganut tipe kinestetik. Bawaan lahir sudah. Bukan ajaran gue. Kinestetik itu tipe belajar, kalau istilah gue yaaa, banyak gerakan tambahannya. Tipe belajar yang banyak melibatkan gerakan.

Dengan bergerak, ia akan mudah mencerna informasi dan menelan informasi itu dalam sanubarinya. Ketimbang hanya mendengarkan atau membaca teori saja.

Bayangkanlah, pagi jam 7, tugas sudah launching. Artinya sebelum jam 7, Ucupyo sudah sarapan dan mandi. Supaya doi gak ada alasan malas untuk belajar daring lalu mengerjakan tugas.

Seperti yang gue bilang pada paragraf sebelumnya kalau Ucupyo itu tipe anak belajar kinestetik, belajarnya bisa dari jam 7 sampai jam 10 pagi kalau gue gurunya.

Lets see. Jam 7 pagi mengerjakan satu nomor tugas. Selesai 1 nomor, ia berlari mengelilingi rumah, lalu mengerjakan nomor kedua. Kemudian maen sepedamuter kompleks, kemudian mengerjakan soal nomor tiga. Begitu terus. Bu guru ngantor jam berapa, coooooba?

Syukurnya, guru-guru Ucupyo sudah tau watak anak didiknya yang bagaikan gasing ini. Sama seperti di rumah, kalau selesai mengerjakan 1 soal, ia  berlari keliling lapangan sekolah lalu masuk kembali ke kelas mengerjakan soal berikutnya hingga tuntas.

Kata gurunya, walaupun demikian, toh dia cepat kumpul tugas dari pada teman-temannya. Kuncinya, Ucupyo bisa membaca dan menulis. Sehingga kegiatan belajar mengajar melibatkan anak kinestetik tidak susah dan merepotkan.

Pernah sekali waktu, gue ubah waktunya. Gue lobi ke guru mapel, kalau kumpul tugasnya via online ajah. Demi fleksibelitas waktu antara gue ngantor dan kesuksesan belajar daring. Sehingga belajar daringnya setelah pulang kantor.

Hasilnya?

Melihat kejadian tersebut, akhirnya gue tetapkan dengan arif dan bijaksana, belajar daring dengan modal mengerjakan tugas pada pagi hari, saat otak masih fresh-freshnya.

Tugas yang Menumpuk Karena Sakit

Bukan siswanya yang sakit, tetapi ibu guru Rrrraya yang sakit selama bulan Ramadhan, Ucupyo sama sekali tidak belajar daring dan tidak mengumpulkan tugas, huhuhu.

Bu guru Rrrraya kena sarampa selama nyaris dua minggu. Lalu, ketika sudah sembuh, lanjut kakek dan nenek Ucupyo sakit dan membutuhkan perhatian ekstra. Maka terjadilah penumpukan tugas dan yups, bikin sesak napas bu guru dan muridnya, hahahaha.

Dalam proses belajar suasananya lagi buru-buru banget, yakin banget gue, si Ucupyo bisa kena mental karena gurunya akan keseringan memelototkan mata. Kita kejar deadline, 2 (DUUUUUUA) hari lagi masuk sekolah dan tugas-tugas wajib selesai.

Tidak seperti lebaran tahun lalu, tahun ini gue gak open house. Selain karena gue masih menjaga nyokap di rumah sakit, juga karena gue fokus gimana caranya bocaaah tugasnya rebbbbbes, hahaha. Mode kompeni banget deh ibu guru Rrrrrraya.

Ucupyo udah sering gue bisikin pake bahasa sehalus ibu peri, bahwa ia wajib menyelesaikan tugas-tugasnya yang terbengkalai selama bulan Ramadhan,hihihi.

Sebisa mungkin, bocah gak ada gerakan tambahannya selama proses belajar, supaya tugas-tugasnya cepat selesai. Namun, yang namanya bawaan alam bawah sadar yaaa. Ada saja gerakan tambahannya.

Dasar anak ibu Rrrrraya!

(Visited 11 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: