0

Jiwa Petualang yang Masih Tersembunyi

Jiwa petualang yang masih tersembunyi. Ketika mengetikan kalimat tersebut, darah gue seakan berdesir. Memikirkan masa muda dulu yang hobiiii sekali pergi berpetualang bersama teman-teman kuliah. Oh ya, waktu kuliah dulu, gue mengambil jurusan epidemiologi yang mana pada akhir studi, kita tuh kerjaannya berpetualang mencari penyakit.

Penyakit dalam makna harfiahnya mencari penyakit-penyakit yang ada di masyarakat. Jadi kita tuh mau melihat secara cross sectional atau secara case control masalah kesehatan pada masyarakat, lalu datanya kami olah sehingga menjadi temuan bahwa masyarakat A misalnya sedang tidak baik-baik saja.

Lalu kami mengadakan edukasi atau upaya preventif dalam mencegah dan atau menanggulangi masalah kesehatan tersebut. Well okhay, itu kejadian empat belas tahun yang lalu. Yang jika gue ingat lagi, pengen kembali ke masa itu, hahaha. Masa-masa berpetualang mencari penyakit.

Belajar sambil Bermain

Banyak yang bilang, kalau masa-masa indah untuk dikenang adalah masa seragam putih abu-abu. Beda beud sih ama gue. Masa putih abu-abu gue suram karena emak gue salah satu gurunya, haha. Gue merasa tertekan dan tidak bebas mengekspresikan diri.

Jangankan bisa berperpetualang, makan indomie siram campur tahu isi ajah bisa mendapatkan ancaman. Sehingga, masa mengekspresikan diri lebih besar pada zaman kuliah. Bertemu dengan teman-teman dari berbagai sekolah, jadi temannya banyak deh. Tanpa pengawasan nyokap, wkwkwk.

Ketika semester tiga, angkatan gue mulai kebagiaan untuk mengospek. Ada namanya kegiatan PDKM. Pendidikan Dasar Kesehatan Masyarakat. Oh sorry to say, kegiatan kami gak pake kekerasan. Sedini mungkin, kita ajarkan ke maba -mahasiswa baru- bahwa gini looooh kamu pada akhirnya nanti, akan bergelut ke masyarakat.

Sehingga maba sudah tau tuh arah masa depannya kemana *tsaaah*. Pelaksaan kegiatan PDKM biasanya ke desa-desa atau tempat masyarakat pesisir. Bayangin coooba, masyarakat pesisir artinya wilayahnya dekat laut kan? Setelah mendapatkan persetujuan dari pemerintah setempat, barulah kegiatan kami laksanakan di alam bebas.

Kita berkemah alias pasang tenda yang view ketika pagi hari masyaallah sekali. Keakrabannya kental sekali. Yang cewek-cewek kebagian tugas logistik. Menyediakan isian kampung tengah. Sedangkan laki-lakinya angkat air dan memastikan kami tidak susah untuk bak atau bab, hahaha.

Petualangan Bersama Gank

Bukan hanya bersama teman kuliah, gue pun berpetualang bersama gank gue. Sahabat ketika masa-masa seragam putih abu-abu. Gank gue tersebar, tidak semua kuliah di Kendari, sehingga kalau libur semester mereka mudik, maka petualangan dimulai.


Jika mereka libur semesternya duaminggu, maka selama itu kita akan berpetualang mencari air terjun, atau masuk ke hutan untuk piknik, wkwkwk. Yang penting kita mengisi waktu libur dengan kegiatan yang elegan. Gak ada mager jaman dulu, haha.

Kini, setelah sebagian besar dari kami telah menikah dan memiliki keluarga kecil, kegiatan petualangan mendadak lenyap dengan sendirinya.

Kan bisa petualangannya bersama keluarga.

Semenjak menikah dan memiliki anak, gue sama sekali belum berpetualang bersama anak dan suami. Jiwa petualang gue mulai kegatelan memanggil-manggil raga ini agar mengikuti ekspedisi. Ekspedisi apaan kek yang penting berpetualang. Berpetualang bersama teman kantor, sering! Tetapi bersama keluarga kecil gue, belum pernah! Hahaha.

Seharusnya bisa dan pasti bisa. Masalahnya suami gue bukan tipe yang doyan berpetualang, wkwkwk. Padahal gue lihat fotonya masih muda dulu, doi juga suka berpetualang bersama teman kampusnya. Kok sekarang gak mau sih? Kesel kan gue jadinya?

Jangankan berpetualang ke luar kota, skala lokal seperti di Kota Kendari ajah, dia ogah. Alasannya segunung. Mulai dari masalah pekerjaan hingga menurutnya, ngapain sih petualangan di alam bebas? Berpetualang di rumah kan bisa. Membersihkan selokan, membersihkan genteng kan bagian dari petualangan juga. WHAAAAAAAAAT?

Gue pernah bilang, kalau gue gak mau mati dulu sebelum sukses mendaki ke semeru atau bromo lah. Semenjak membaca novel 5 cm plus menonton filmnya, gue benar-benar terobsesi bisa berpetualang ke sana dan bersekutu mau ngajak Ucup dan bapaknya ikutan berpetualang.

Tau gak sih dia bilang apa? “Silahkan berpetualang, silahkan taklukan gunung semeru, tetapi tunggu Ucup dewasa. Kamu berpetualang kemana ajah tapi sama Ucup” beeeetekan gue, hahaha. Masalahnya, Ucup tumbuh dewasa, gue udah otw jompo, waaaaak.

Olehnya, sejak dini,Ucupyo gue sering ajak berpetualangan walau skala lokal. Seperti berpetualang di kantor atau tempat eksotik yang ada di Kota Kendari. Bekal, biar dia tau emaknya memiliki jiwa petualangan yang masih tersembunyi.

Gue sering menengadahkan tangan ke langit, meminta pertolongan Tuhan. Agar membukakan hati suami gue yang paling bete kalau diajak maen ke laut atau main air itu biar mau diajak petualangan. Suatu hari yang entah kapan, gue berkeyakinan bakalan bisa berpertualang besama menaklukan semeru dan sekitarnya. Amin.

(Visited 9 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: