0

Ketika Hari Pertama Masuk Kantor Seperti Sebuah Ke-halu-an

Sepuluh hari libur bukan waktu yang mudah untuk moveon dan memulai kembali rutinitas seperti sedia kala. Libur? Apa itu? Gue sama sekali tidak merasakan libur. Tidak merasakan yang namanya bersantai sambil menikmati cemilan atau silaturahmi ke rumah keluarga lalu hahahihi.

Selama libur lebaran ini waktu gue lebih banyak untuk menemani nyokap yang sedang tak enak badan. Pasca keluar dari rumah sakit, kesehatan nyokap belum seribu persen pulih seperti sedia kala. Biasanya, jika keluar dari rumah sakit, titah yang mulia nyokap buwanyak sekali.

Rumah wajib bersih, masak air panas (AIRNYA GAK BOLEH AIR GALON KEMASAN APALAGI PANASNYA DARI DISPENSER. BIG NO!) dan lain-lain. Kalau tak sesuai SOP nyokap bakalan mengomel panjang x lebar. Kini, omelan itu tak ada, berganti oleh rintihan.

Jangankan ngomel ya waaaak, ngomong ajah beliau malas dan itu mbikin gue stres, overthingking lalu memikirkan hal-hal yang diluar jangkauan gue.

Hal itu ternyata berdampak terhadap pekerjaan gue di kantor. Tanggal 9 April masuk kantor gue tuh berasa lagi halu. Eh ciyus nih udah masuk kantor? wkwk.

Pakaian belum disetrika, rumah berantakan, lalu masuk kantor menemui meja kerja gue yang sama persis berantakannya dengan rumah gue, hahaha.

TUHAAAAN, BISAKAH KAU MENAMBAHKAN LIBUR?

Biasanya, proses pembuatan gaji induk untuk bulan berikutnya terjadi pada bulan berjalan. Misal nih yaaa, gaji induk untuk bulan Juni 2022, artinya proses pembuatannya itu tanggal 1 hingga 6 Mei 2022. Semingguan laaaah. Karena proses pemeriksaannya rada lama, sehingga wajib banget setoran cepat-cepat.

Berbeda dengan gaji lainnya dalam bentuk lauk pauk atau tunjangan sertikasi dosen. Kalau mereka statusnya mesti dibayarkan dalam bulan berjalan.

Pemberitahuan dari Kppn selalu menjadi alarm jika persoalan gaji belum tuntas. Itu baru gaji induk. Belum lagi Uang lauk-pauk, tunjangan sertifikasi dosen, tunjangan kehormatan guru besar, kekurangan gaji dan lain sebagainya *tempel salompas*.

Setelah meyakinkan diri bahwa masuk kantor itu bukan halu, gue mulai berjuang untuk membuat gaji induk. Ingatan mengenai cara membuat gaji tiba-tiba hilang. Nah lo? Pake 2x error segala pula, hadddeuh.

Kemudian teman-teman si gaji menyusul dan berkoloni ikutan error. Seperti aplikasi pembuatan tunjangan sertifikasi dosen dkk. Hiiiiiii. Rasanya pen nangis.

Masalahnya, kalau pembayaran telat, yang bakalan kena serangan mental itu, GUE! Bukan bos gue apalagi teman seruangan gue. Pure yang bakalan tawuran secara mental adalah GUE. Hahaha.

***

Setelah salam-salaman dan meminta maaf sama teman kantor, gue membuka leptop. Lalu menyetel beberapa lagu yang meyakinkan diri bahwa masuk kantor itu nyata, bunda. Bukan halu, wkwk.

Membuka kitab suci yang berasal dari goresan tangan gue sendiri. Catatan mengenai cara-cara singkat membuat gaji yang hanya gue seorang yang paham, haha. Akhirnya sedikit cahaya berkelebat dalam sanubari, seakan membangunkan ibu Raya yang alam bawahnya masih libur, bur, buuuuur.

Paham alur kerjanya, gue mulai berkutat untuk memulai pekerjaan. Gak lama sih, sekitaran 15 menit, karena setelahnya bu bendahara mengajak gue bersekongkol untuk kabur sementara dari kantor. Yang langsung gue IYAin tanpa a-i-u-e-o, huwahahahaha.

Thanks god…

(Visited 27 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: