7

Mata Air Ghulu Desa Lailangga

Desa Lailangga adalah wilayah jajahan bokap. Desa Lailangga masuk wilayah Kabupaten Muna Barat, Provinsi Sulawesi Tenggara. Kampung halaman bokap. Desa yang menjadi saksi bisu bagaimana bokap menjalani masa kanak-kanak sebelum memutuskan merantau ke Provinsi sebelah setelah tamat SMP.

Saya lumayan akrab dengan desa Lailangga, karena waktu kecil kami rajin pulang kampung. Apalagi jika bulan Ramadhan tiba. Pokoknya wajib banget deh menjalani takbir akbar sekaligus lebaran di Desa Lailangga. Apalagi rumah nenek di kampung adalah markas perkumpulan bagi cucu-cucunya yang super duper rese’, hahaha.

Yaaaa, walaupun kami rese’ tapi gak pernah tuh kami dipukul sama nenek. Palingan orang tua kami yang meraung-raung, wkwkwk. Namanya juga anak-anak ya waaaa’. Rese’ itu wajar kok, yang penting tidak mengganggu orang lain. Karena masa anak-anak adalah masa tumbuh kembang, jadi banyak rasa ingin tahunya.

Waktu berganti, karena satu dan lain hal, kami jarang pulang kampung lagi. Waktu SMP saya banyak menghabiskan waktu di Kendari. Tidak pulang kampung ke Desa Lailangga, karena saya sekolahnya di Makassar.

Pulang ke Kendari sekali setahun, saat lebaran saja. Sehingga yang namanya mudik ke Kendari dan berkumpul bersama keluarga adalah momen yang tak bisa diganggu gugat. Saya tidak mengizinkan orang tua saya lebaran di kampung, hihihi. Karena saya ingin bersama mereka menikmati liburan yang seiprit.

Begitupun ketika SMA, seingat saya yaaa, kami jarang pulang kampung. Kuliah pun demikian, ketika orang tua saya lebaran di Raha, saya lebih memilih stay at home. Masa-masa SMA dan kuliah sangat berat bagi saya, karena apa? karena JERAWAT sialan yang menggerogoti muka saya, sampe insekyuuuuur deh kalau ketemu orang-orang.

Sial pangkat sejutanya lagi, suka dibanding-bangingin muka saya sama sepupu yang mukanya halus dan lembut kayak pantat bayi. Ahhhh, bete ah pokoknya.

Sehingga saya memilih vakum dari yang namanya pulang kampung. Mau lebaran kek, ada acara keluarga kek, saya istiqomah dengan pilihan saya TIDAK PULANG KAMPUNG demi menjaga hati saya yang sensian ini, wkwkwk.

“Assstaga Raya, itu muka atau parutan kelapa?”

“Jangan suka maen panas-panasan, jerawatan kan akhirnya”

“Kamu sepupuan sama si anu? Cantiknya si anu, kok kamu jerawatan?

Gggggggggrrrrrrrrrr….

***

Juli 2022, saya mengunjungi Desa Lailangga bersama bokap dan adek dengan sekelebat kenangan yang menghinggapi benak kami. Rumah nenek yang dulunya menjadi basecamp kami sudah tidak ada. Entah mengapa sudah rata dengan tanah. Yang bersisa hanyalah seonggok batu bata. Jejak kerese’an kami sudah tidak ada.

Bapak pun demikian. Berpijak di tanah kelahirannya, membuatnya terbuai memori yang susah dilupakan. Kenangan bersama orang tuanya juga sepaket kenangan bersama istrinya, mama. Ya kan kalau bapak pulang kampung selalu menggandeng mama, hehehe.

Nenek dan kakek sudah berpulang ke kampung akhirat. Sudah pada reuni tuh sama mama saya di alam sana. Semoga Allah merahmati mereka. Amin.

Setelah mengunjungi rumah nenek yang sudah rata dengan tanah, kami mengunjungi rumah kebun paman. Dan disanalah mengalir kisah heroik bokap dan paman mikul garam dari kota Raha ke Desa Lailangga yang jarak tempuhnya 50 km untuk dijual kembali di kampung. Daebak.

Bokap dan paman juga sama-sama tidak ridho jika rumah nenek diratakan dengan tanah seperti pada foto di atas. Yang berjasa besar terhadap rumah nenek itu adalah bokap dan paman. Karena mereka yang memikul kayu untuk fondasi rumah. Super daebak.

Pantesan yaaaa, generasi jaman orang tua kita itu benar-benar generasi matang. Karena kehidupan yang mereka rasakan tidak semudah anak jaman sekarang lalui.

Urusan selesai, kami menuju ke mata air Ghulu yang masih berada diwilayah jajahan bokap yaitu Desa Lailangga. Mata air yang digunakan warga sekitar untuk keperluan mandi, masak dan refreshing. Saya tentunya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ketika mengetahui ada aset desa yang wajib banget dilestarikan.

Mata Air Ghulu

Iyyyyeps namanya mata air ghulu. Mata air yang bersumber dari gunung. Warnanya hijau cerah, kualitas top markotop. Airnya jernih dan bersih banget. Membuat siapapun yang melihatnya -si mata air ghulu- tak sabar ingin segera membelainya (baca : nyemplung).

Katanya punya katanya, tempat ini digunakan oleh para bidadari untuk turun mandi pada saat malam hari. Jangan coba-coba mengintip, atau kamu bakalan kena sial atau bahkan bisa metong di tempat kalau ketahuan. Nyuri selendang? Aduh aduh aduh aduh, bisa-bisa saat itu juga kamu berpindah alam 😀

Penyakit gatal air saya, kambuh! Pengen rasanya nyemplungin diri. Pasti rasanya bagaikan anak putri raja yang sedang mandi. Sayangnyaaaaa, melihat lokasinya yang dikelilingi oleh pepohonan -bisa dibilang hutan- bikin nyali saya menciut.

Oh demi apa, bayangan akan diterkam ular raksasa memenuhi benak saya. Sehingga niat mulia bernama nyemplung, saya hapus! Hahahha.

Karena si kakak takut untuk nyemplung, si adik ikutan solider sama kakaknya gak mau nyemplung juga, wkwkwk. Oh tidaaaak, kenapa saya bisa membawa pengaruh buruk terhadap orang lain?

Mandi Bersama Ikan

Tuh kaaaan? alam seakan bersekutu memanggil saya untuk segera turun ke mata air Ghulu untuk nyemplung. See? Ikan-ikan saja ketika mencium aroma saya, auto mendekat. Minta kenalan! hahaha.

Kleyan pernah baca novelnya Dewi Lestari yang berjudul Aroma Karsa? Alam bawah sadar saya menyamakan settingan kejadian dalam novel tersebut dengan di mata ghulu ini. Bagaimana heroiknya Jati Wesi dan Tanaya Suma mengendus aroma. Sampe aroma kejahatan mampu terendus olehnya, hahaha. Ampun deh.

Belum lagi setingan dalam novel karya Dewi Lestari dimana Jati Wesi yang bertarung melawan makhluk ghaib, terbang dari pohon satu ke pohon lainnya untuk mencari jati dirinya. Makin parnolah sayaaaa.

Jika takut makhluk ghoib sih insyaallah tidak, karena yang mengawal kami sampai ke mata air ini adalah seorang bapak yang sakti mandraguna, hihihi.

Bokap memastikan bahwa di mata air ghulu ini aman. Gak ada ular seperti dalam pikiran saya. Kalau pun ada ular, udah lama kaliiiik, mata air ini ditutup. Tidak digunakan untuk kehidupan hari-hari masyarakat disini. Dan pastinya, ikan-ikan yang seakan memanggil saya untuk nyemplung ini, gak bakalan ada karena ditelan ular.

Mata Air Ghulu yang Tak Pernah Kering

Gak pernah ada sejarahnya mata air ini kering. Kendatipun musim kemarau panjang, air ini tetap mengalir dan selalu ada. Pusat mata airnya itu ada pada papan tempat adik saya berfoto. Sumber mata airnya ada disana. Sekaligus menjadi pusat ketakutan saya kalau-kalau ularnya nongol dari mata air ituuu, wkwkwkwk.

Penyesalan Selalu Datang Belakangan

Mmmmm, penyesalan itu timbul ketika kami sudah tiba di Kendari dengan selamat sentosa. Bayangan akan indahnya nyemplung di Mata Air Ghulu bersama ikan-ikan yang uculs memenuhi pikiran saya. Sampe masuk ke alam mimpi looh. Rrrrrasain! wkwkwkwk.

Semoga masih ada kesempatan mengunjungi mata air ghulu lagi, dipastikan saya bakalan nyemplung bersama ikan lagiiii. Biar gak kebawa mimpi aaaah. Penyesalan itu gak enak, suer deeeeh.Mending mencoba dengan segala resikonya.

Ketimbang menuruti ketakutan diri yang belum tentu kejadian tapi akhirnya membuat pikiran melayang-layang. Iya, melayang-layang! Raga di Kendari tetapi pikiran di Mata Air Ghulu yang gagal ditaklukan oleh Ibu Raya 😛

(Visited 20 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: