2

Membayar Utang Puasa Ramadhan Bagi Wanita

Membayar utang puasa ramadhan bagi wanita

“Utang sesama manusia saja wajib bayar apalagi utang sama Allah?” Begitu kata teman gue sekitaran 6 tahun yang lalu saat mengetahui temannya yang satu ini punya utang puasa. Bukan tanpa sebab sih. Tahun 2014 saat memasuki bulan ramadhan, gue dalam kondisi hamil. Terus tahun 2015 gue dalam kondisi menyusui, hehehe.

Sependek pengetahuan gue, kalau dalam kondisi hamil dan menyusui bisa dong bayar fidya. Sehingga terbebaslah utang puasa gue. Terkecuali utang puasa karena mens. Lalu dese histeris “emangnya elu sudah jompo, hah? Segitu jomponya sampai utang sama Allah elu gak bayar?”

Pembicaraan kami tahun 2017 silam mengenai membayar utang puasa ramadhan terngiang hingga saat ini. Ya gue malu-lah sama Allah. Fisik alhamdulillah sehat, mental juga alhamdulillah sehat walau kadang korslet, terus gue punya alasan apa sampe gak menunaikan kewajiban Allah?

Detik ini, saat tulisan ini terbit, percayalah, gue sedang menunaikan puasa bayar utang bulan ramadhan tahun 2021 karena mens. Seyuyurnya gue luping -lupa-lupa ingat- apakah utang puasa sudah lunas atau belum. Kebiasaan gue, selepas ramadhan, gue mulai bayar utang. Olweis.

Dari pada hati gue penuh keraguan, ya udah, gue bayar saja utang puasa 12 hari sejak memasuki bulan Maret th 2022. Dua belas hari tentu bukan waktu yang mudah.

Semoga Allah masih memberi umur hingga utang gue lunas dan menunaikan ibadah puasa ramadhan secara khusyuk. Amin. Hei kamu yang sedang membaca tulisan ini, bantuin amin doong :D.

Membayar Utang Puasa Ramadhan Sebanyak 60 Hari

Tahun 2017, setelah mendengar nasehat teman gue tentang kewajiban membayar utang puasa ramadhan bagi wanita, gue langsung bayar utang. Bayangkanlah tahun 2014 sebenarnya fisik gue kuat saat menjalani kehamilan. Flashback saat gue hamil, alhamdulillah gak neko-neko. Cuman gue gampang lapar. Gak bisa nyium bau nasi panas, perut langsung nendang-nendang minta makan.

Lalu tahun berikutnya karena gue menyusui, maka terputuslah niat bayar fidya saja sebagai pengganti utang puasa. Kasihan Ucupyo yang masih kecil pastinya membutuhkan nutrisi untuk mendukung tumbuh kembangnya. Pikiran gue saat itu.

Teman gue memberi gue bekal supaya semangat membayar utang puasa karena kaitannya dengan kewajiban kita sebagai muslim adalah bertaqwa kepada Allah. Kalau kita ngaku-ngaku beriman dan bertaqwa, maka penuhilah hak Allah.

“Jagalah Hak Allah, maka Allah akan menjagamu”

Kalimat itu yang gue pegang hingga saat ini. Jika Allah menjagamu, apa yang akan kamu susahkan? Allah menjagamu dengan sebaik-baiknya penjagaan.

So yeah tolong bayangkan, gue membayar utang puasa ramadhan selama 60 hari. Ketika memasuki tahun 2017, gue berniat membayar utang puasa ramadhan. Nangis-nangis deh. Kepercayaan diri bahwa Allah akan membantu hambaNya yang ingin bertaubat, mengantarkan gue ke gerbang bebas utang puasa. Alhamdulillah.

Lalu, bagaimana caranya membayar utang puasa setelah melewati dua (2) tahun bulan Ramadhan?

Well okhay, anggaplah gue sudah melakukan pelanggaran karena gak membayar utang puasa setelah bulan ramadhan berakhir. Puasa ramadhan kan hukumnya wajib. Jelas tertuang dalam rukun islam yang ketiga. Menunaikan puasa ramadhan.

Ada kisah menarik bagaimana istri Rasulullah saw mengganti puasa ramadhannya. Karena beliau adalah salah satu panutan wanita muslimah, maka kisahnya terangkat dalam kaitannya dengan mengganti puasa ramadhan.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan pengalamannya ketika memiliki utang puasa ramadhan. “Dulu, saya memiliki utang puasa ramadhan dan saya tidak mampu mengqadha’nya kecuali di bulan sya’ban”.

Al Hafidx Ibnu Hajar mengatakan, disimpulkan dari semangat Aisyah untuk membayar puasa di bulan sya’ban bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha sampai masuk ramadhan berikutnya (Fathul Bari, 4/191)

Ada dua (2) kondisi menunda ganti puasa ramadhan.

  1. Mereka yang menunda puasa ganti (qadha puasa) yang memiliki uzur atau halangan. Contohnya kayak kasus gue pada tahun 2014, ketika sedang hamil tidak puasa dan belum sempat mengganti puasa sampai masuk ramadhan berikutnya karena menyusui.
  2. Menunda qadha puasa hingga masuk ramadhan berikutnya tanpa uzur. 

Pada point kedua itu, ada tiga (3) kewajiban  untuk orang yang melakukan pelanggaran ini, antara lain :

  • Pelakunya wajib bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.
  • Wajib segera mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan
  • Wajib membayar denda (kafarat) dengan cara memberi makan orang miskin  sebanyak setengah sha atau 1,5 kilogram makanan pokok sesuai dengan jumlah hari puasa yang belum dia ganti.

Pengecualian untuk point nomor 3 dikhususkan bagi lansia yang secara fisik sudah tidak mampu melaksanakan qadha puasa. Jika masih mampu untuk menunaikan qadha puasa, yuks aaaaah kita gaspol.

Beberapa hari lagi bulan ramadhan akan menjumpai kita. Yuks siapkan diri untuk kedatangannya. Bersihkan hati bersihkan jiwa menyambut bulan yang suci. Yang masih memiliki utang puasa, semoga Allah memudahkan untuk mengqadha puasanya.

Salam,
Rayamakyus
(Visited 12 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: