9

Memblokir Akun Media Sosial Suami/Istri, Yay or Nay?

Memblokir Akun Media Sosial Suami/Istri- Zaman sekarang ini, media sosial merupakan bagian dari kehidupan. Setiap orang berhak untuk memilikinya, menjadi penggunanya, termasuk pasangan kita. Memblokir akun media sosial pasangan hidup kita kerap dinilai rancu oleh beberapa pihak.

Memblokir yang merupakan kata dasar dari blokir bermakna “pembekuan atau pemberhentian”. Jadi, memblokir media sosial pasangan hidup kita jelas artinya menghentikan segala rupa pemberitahuan tentang akunnya.

Sebenarnya memblokir akun media seseorang itu sah-sah saja menurut kacamata gue. Yang penting tidak memblokir dari kehidupan kita. Itu sama saja dengan memutus tali silaturahmi. Ancamannya juga jelas dong ya kalau memutus tali silaturahmi. Tali jemuran sajalah yang putus, habluminannas jangan dong!

Memblokir Akun Medsos Suami. Salahkah

Oh well, tulisan ini sebenarnya sudah lama tersimpan dalam draft. Maju mundur cantik pengen melanjutkannya. Setelah gue mengadakan survey kecil-kecilan di WAG jelas lah gue mendapat kecaman dari banyak pihak. Mempertanyakan dasar yang kuat KENAPA AKUN MEDSOS SUAMI/ISTRI DIBLOKIR?

Ini kisah gue. Bukan kisah tetangga sebelah…

*Hening yang mencekam*

Ada satu waktu, gue merasa media sosial mengikis rasa kasih dan sayang gue kepada pasangan hidup gue. Kenapa? Gue bisa memantau segala aktifitasnya lewat facebook, instagram, twitter. Pun sebaliknya!

Jujur kacang ijo saja, gue merasa hampa! Gue menjadi banci kamera. Dikit-dikit jepret lalu upload! Semakin hari gue semakin muak dengan kerjaan gue di media sosial. Kendatipun tujuannya supaya suami gue mengetahui keberadaan istrinya, tetap saja gue merasa hampa. Alay! Hahahaha.

Banyak like yang gue terima. Banyak komen bermunculan. Ada yang komen gue mamak kece lah, gue wanita karir lah, gue makin cantik *hoeks* dan masih banyak komen-komen yang kelihatan seperti memuji. Entah tulus atau hanya basa basi. Oh well, gue jadi merasa di atas pohon beringin yang sedang ditiup angin sepoi-sepoi.

Like dari suami gue? gak ada! Komennya pun gak ada! Sebaliknya, suami gue gak pernah mosting foto atau pun status. Biasa juga ngestatus sih tapi isinya “aduh hujan, jemurankuuuuu!“. Boro-boro nanyain kabar. Biasanya temannya ngetag dan ngasih informasi kalau lagi makan misalnya atau lagi nongkrong atau lagi kerja apaa gitu?

Lalu, gue menemukan postingan teman gue di beranda facebook. Isinya cukup menohok, misalnya, di saat elu sayang-sayangan sama pasangan di media sosial, apa kabar yang jomblo? Di saat elu kejar-kejaran sama anak elu, apa kabar yang hingga kini belum memiliki momongan? Dan masih banyak contoh lainnya. Disitu gue merasa ada niat lain nih di hati gue selain memberi informasi keberadaan gue lewat media sosial.

Ibu, apa hubungannya sama memblokir akun suami/istri?

Oke gue lanjutin ye…

Jadilah gue tegur suami. Gue tanya mengapa ia jarang bahkan tak pernah bertukar kabar dengan istrinya yang suka ngaku-ngaku mirip Angelina Jolie kalau di lihat dari atas monas disaat jam kantor atau istrirahat? Di telpon kek, atau di chat via wa sajalah sudah cukup membuat hati gue jingkrak-jingkrak.

Jawabannya singkat padat dan jelas. “Laaah, saya kan bisa mengetahui kabar kamu dari facebook atau instagram“.

*Oh my god, istri bapak itu manusia bukan siti facebook atau siti instagram!*

Oke, gue memang suka foto-foto apalagi menggunakan handphone tapi yang di upload bukan hanya foto selfie loh ya. Gue kan member #uploadkompakan, hahaha *ciyeeehpameeer*.

Sebagai perempuan pencinta drama korea, jelaslah menuntut diperlakukan seperti dalam drama yang biasa gue nonton. Ditanyain “kamu dimana? dengan siapa? sekarang berbuat apa?” oh Yolanda plis deh!

Akhirnya gue unfriend pak suami dalam daftar pertemanan di media sosial. Sengaja, biar hatinya perih saat tidak mengetahui kabar istrinya dalam berandanya. Sial pangkat sejutanya, diam-diam ternyata  beliau menggunakan keseimbangan otak kanan dan kiri yang dimilikinya. Teman kantor gue, geng gue, semua di add friend. Jadilah, kendatipun gue kagak temanan sama beliau tetap saja beliau bisa memantau gue dari jarak yang tak terdefinisikan. *Oooh beb, kau curangi akuuuuh*.

Merasa sakit hati, akhirnya gue blokir akun media sosialnya dari segala penjuru kecuali akun whatsapp! 2 minggu pertama beliau kagak ngeh, barulah minggu berikutnya beliau mencak-mencak ketika mengetahui di blokir oleh istrinya sendiri, hahahaha.

Oke, sebut gue perempuan aneh! Sakit jiwa! Ratu teeegaaa! Setelah kasus pemblokiran terjadi, banyak faedah yang gue temukan yang selama ini tertutup oleh keeksisan gue (yang tak berfaedah tentunya) yang memenuhi beranda media sosial gue.

Manfaat Memblokir Akun Media Sosial Suami/Istri

  • Semakin Mensyukuri Hidup

Semenjak gue memblokir akun media sosial pak suami, gue pun mulai jarang mengunggah foto atau status di media sosial. Gue jauh lebih mensyukuri hidup dengan cara yang wajar. Bukan bersyukur bisa makan ayam kepci seember lalu di upload ke medsos, gak jaman bu!

Gue makin bisa mengartikan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Bahagia-kan gak mesti menguntit suami gue lewat medsosnya. Ya kan? Teror ajah HPnya. Lalu apakah setelah gue unggah status atau foto dan ngetag namanya gue jadi bahagia? NO! yang ada gue pencitraan level kementrian, gak bisa fotonya jelek atau kelihatan gendut sampe-sampe gue pernah kejang perut lantaran tahan napas mau poto-poto, ckckck.

Gue jadi merenung, buat apa semua itu gue lakukan coba? buat apa? kagak ada gunanya. Gue makin mensyukuri di beri suami dengan karakter yang cuek tapi tingkat kepeduliannya patut di ancungi 4 jempol. Karena suami gue emang karakternya seperti kan ya? Bukan tipe yang mau pamer kemesraan di publik, xixixixi :D.

Butuh perhatian lebih? sms ajah atau kirim pesan wa yang berbunyi :

“beeeeb, aku kelindes

.

.

.

.

.

.

.

.

semuuuut”.

Gak sampe 2 detik, ringtone we are the championnya queen teriak-teriak dari smartphone gue. Pak suami calling…

  • Terhindar dari Julukan Drama Queen

Kalau dikit-dikit bikin status atau unggah foto pribadi atau apapun yang elu lakukan di share di medsos, bukannya bakalan dapat stigma negatif tuh? Maka jadilah drama queen atau yang lebih mengerikan lagi julukan miss lebay bakalan terpatrit dalam diri elu.

Contohnya, bisa saja orang berkata seperti ini “Istrinya pak anu drama queen banget ih. Dikit2 ngetag suaminya, walau gak ada hubungannya tuh sama suaminya!” Big NOOOOO!

Kecuali, jenis unggahannya berupa motivasi atau pengalaman yang berfaedah ya bolehlah di share ya. Kan, kan, kan ilmu pengetahuan itu tidak hanya kita dapatkan di bangku pendidikan. Tapi dari lingkungan sekitar kita juga. Ya kan?

  • Dekat dengan Keluarga

Ini nih faedah yang paling gue rasakan. Gue makin dekat dengan suami walaupun tepisahkan tupoksi sebagai ASN. Karena karakter suami gue yang cuek, maka jadilah gue yang banyak menghubungi beliau.

Tanya kabar atau minta tolong kompie/lapie di perbaikikan. Pas beliau datang ke kantor, gue menggunakan kesempatan emas ini. Oh iya, gue kerja se atap universitas dengan beliau. Beda fakultas ajah. Beliau antek, sedangkan gue ankesmas. See? Bumi dan matahari banget kan bedanya! hahahahaha.

Berhubung kami tidak terkoneksi lagi oleh media sosial, untuk share foto atau status kebanyakan di chat WA sih. Chat WA kami berdua, bukan chat WAG dong yaaa. Selain lebih personal, juga lebih pakem kalau mau saling mencela!

  • Menjaga Kehormatan

Sebenarnya lebay banget juga kan ya kalau mau menguntit isi sosial media pasangan kita atau sebaliknya. Rasa kepercayaan terhadap pasangan itu kesannya tidak ada. Bahkan terkesan salah satu pihak mendominasi.

Gue pun merasa dengan mengunggah foto selfie sendiri bisa jadi terbukanya pintu maksiat tanpa gue sadari. Kenapa tidak? Disaat laki-laki lain yang bukan muhrim  ikut menikmati pemandangan diri kita yang kita unggah sendiri ke media sosial disaat itu pulalah sebenarnya aura negatif mengintari dunia kita.

Masalahnya, yang akan bertanggung jawab atas tindakan kita itu kaaan suami kita juga! Bisa jadi, karena kita tidak menjaga kehormatan sebagai istri sholehah, menjadi penghalang jauhnya bola rejeki menggelinding memutari roda kehidupan kita.

Tanpa memblokir akun medsos pasangan sih sebenarnya kita tetap menjaga kehormatan diri dan pasangan kita tentunya.

  • Menjaga Hati

“Ibu ngeblock akun medsos bapak? memangnya ibu tidak takut bapak ada main sama perempuan lain tanpa sepengetahuan ibu?”

“Kalau akun media sosial suami kita pantau, biasanya kecil kemungkinan suami kita di rampok pelakor”

“Ibu ada pria idaman lain selain bapak ya?”

Gue cuman bisa mengurut dada sambil beristigfar dan melempar biji salak supaya jin dan jun yang mengelilingi orang-orang yang kasih masukkan tadi lari sejauh-jauhnya  mendengar statemen mereka ketika mengetahui gue dan pak suami saling blokir di media sosial.

Gue sama sekali gak kepikiran yang aneh-aneh karena ketika melangkahkan kaki keluar rumah, gue sudah meminta pertolong kepada gusti Allah SWT agar menjaga dan melindungi keluarga gue. Melindungi mata kami agar tidak berbuat zina dengan melihat yang manis-manis berkeliaran.

Pokoknya gue serahkan segala penjagaan hanya kepadaNya. Dialah yang Maha Mengetahui, Maha Memblolak Balikkan Hati.

Olehnya gue mengamuk parah ketika gue hanya dimonitor lewat media sosial oleh beliau. Iyyyuwh banget deh ah!

Memblokir Akun Media Sosial Suami, Yay or Nay?

Gue sih yay, karena :

♥ Akun media sosial suami gue terbuka lebar di depan leptop. Tak perlu pakai pasword, semua informasi sama siapa saja beliau chatingan atau komen-komenan terbaca dengan jelas. Pun dengan akun media sosial gue. Beliau bebas mau kepo sama siapa ajah gue berdebat. Gue-kan paling sering rusuh kalau Oom Sandiaga Uno di celah di publik!

♥ Memblokir akun media sosial kan bukan berarti memblokir beliau dari hidup gue. Bisa kena karma gue!

♥ Memblokir akun media sosial suami jelas menjadikan gue dan beliau jadi sunyi jika tak ada saling melempar celaan atau hinaan yang bisa menghidupkan suasana ketika kami sedang berjauhan.

Bagaimana dengan pendapat anda? Komen dong 🙂

Salam,
Raya Makyus.
(Visited 97 times, 3 visits today)
%d blogger menyukai ini: