2

Mengejar Tigabelas Desember 2021

Mengejar tigabelas Desember 2021. Apa yang dikejar? Mengapa dikejar? Lalu, ada apa dengan tigabelas Desember? Tigabelas, seperti sedang terbayang pada sebuah angka yang paling dihindari, yang paling dijauhi. Namun sialnya ia mendekat. Mendekatiku dengan keyakinan penuh bahwa aku dapat melewatinya.

Begini ceritanya….

Biasanya, pada bulan desember disebut-sebut sebagai bulan paling deadline bagi divisi keuangan. Bulan yang teramat hectic. Kenyataannya seperti itu memang. Kami yang terjerumus di dalam divisi tersebut senantiasa siap sedia dikejar atau mengejar deadline akhir tahun. Kadang membuat hati jengkel bin dongkol. Seolah-olah setelah bulan Desember berakhir, maka berakhir pula dunia ini. Begh!

Segala bentuk pencairan dilakukan sebelum menyeberang ke tahun 2022. Ya gaji-lah, ya lauk pauk lah, ya sertifikasi dosen lah dan lain-lain. Karena biasanya, anggaran bisa beroperasi bukan di bulan Januari setelah berakhir bulan Desember tahun sebelumnya. Sepengalamanku sih anggaran ada tuh di bulan Maret dan April. Jadi dan sehingga, kalau bisa pembayaran terkejar di akhir tahun, kenapa mesti menyebrang tahun gitu loh.

Karena ada beberapa hal terkait pembayaran yang tidak dapat dibayarkan setelah menyeberang tahun. Sakit gak sih? Tahun 2021, pimpinan memberi instruksi deadline pembayaran pada tanggal tigabelas Desember.

***

Siang itu, di bulan November, setelah berpacu dengan FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) dalam mengelola pembayaran tunjangan Guru Besar, aku mengirim pesan ke Wa grup Pegawai FKM UHO. Bunyinya tegas…

Disampaikan kepada bapak/ibu Dosen Non PNS, agar melengkapi berkas terkait pembayaran gaji bla bla bla bla bla, tak lupa untuk menyertakan fotocopy buku rekening bank Muamalat

Keesokan harinya, berkas mereka ada dan lengkap! Setelah menyetorkan kepada Arif -operator SPM- aku kembali berkutat dengan sk KPA. As we know lah yaaa, yang namanya pembayaran wajib banget disertakan sk KPA -Kuasa Pengguna Anggaran- yang ditandatangani oleh Rektor. Hukumnya setara dengan sholat lima waktu! Wajib!

29 November 2021, aku mengirim si sk KPA ke pengelola persuratan -lupa apa nama bagiannya- di rektorat. Biasanya, setelah pengiriman seminggu kemudia si sk KPA sudah selesai. Terima bersih ajah kita-kita ini yang bertugas sebagai pengelola gaji.

Lalu pada tanggal 2 Desember 2021, kebetulan temanku yang pengelola gaji dari Fakultas Pertanian mau ke bagian persuratan. Mengecek sk KPAnya juga. Qadarullah, sk kpa-nya tidak terbaca di aplikasi google form. Maka diinstruksikanlah beliau agar mengirim sk kpa kembali.

Lalu punyaku? Kata salah satu pegawai bagian persuratan, sk kpa FKM sedang berada di meja rektor. Artinya apa? Sisa nunggu tanda tangan pak rektor dan selesai.

Seminggu berlalu, mengapa tidak ada panggilan dari bagian persuratan? Apakah selama itu harus menunggu ketika terakhir kali informasinya sk kpa-ku sedang duduk manis di atas meja pak Rektor, menunggu giliran untuk dicoret tepat di atas nama pak rektor?

Penasaran, pergilah aku melangkah ke lantai 3 rektorat. Mengecek keberadaan sk kpa-ku.

“Ibu Raya, sk ibu tidak ada di dalam aplikasi, sehingga kami belum memprosesnya”

NAAAAAAON?

Otakku secepat mungkin menghitung hari demi hari, detik demi detik. Sekarang sudah tanggal 9 Desember dan sk kpa-ku belum selesai? Pengen rasanya aku mengamuk! Susah amat gitu ngasih kabar! Padahal nyata-nyata loh minggu lalu mereka bilang sk kpa-ku sudah di atas meja rektor. Tuhan…

Oh iya, tau tidak kenapa aku bisa nekat mendatangi bagian persuratan hari itu? Karena teman ruanganku -pak Jamil- pagi-pagi sudah heboh dan berkata “bu Raya, kemarin bagian persuratan telpon saya. Terus nanyain sk kpa, ibu”.

Aku yang kepo “terus bapak bilang apa?

Saya sakit kan kemaren bu, jadi mustahil sekali bisa lincah pergi kantor dan ambil sk

Berdasarkan cerita itu-lah aku paham, bahwa mengapa alat canggih bernama SMARTPHONE tidak berfungsi dengan baik pada kalangan tertentu. Kenapa sewaktu menghubungi pak Jamil tidak menitip pesan mengenai sk kpa-ku? Kenapa? Mengapa? Hey, tanggal 9 Desember itu sisa beberapa lagi hingga sampai ke tanggal 13, bunda.

Tidak diam begitu saja, aku menghubungi salah satu pegawai bagian persuratan yang nomor handphonenya aku simpan di kontakku sambil memohon sekiranya bisa-lah tanggal 13 Desember sk kpa-ku sudah selesai. Aku yang selalu mengikuti prosedural kini mulai gelisah.

***

10 Desember 2021, aku keluar dari ruangan persuratan dalam keadaan hampa. Sk kpa belum ada titik terangnya. Kuseret kakiku memasuki ruangan bagian keuangan untuk membawa berkas lain yang akan diproses pembayarannya. Sambil dalam hati berdoa, semoga dosen non pnsku masih diberi rejeki, sehingga dalam proses pembayaran nama mereka ada. Walau tanpa sk kpa. Amin!

Aku melaporkan perihal sk kpa dosen non pnsku yang belum selesai kepada pimpinanku. Dan lalu tanpa sadar seperti mengintimidasi mereka yang tatapan nanar yang jika diterjemahkan bunyinya begini “Bapake, tolonglaaaaaaaah, pembayaran untuk dosen non pns FKM bisa terjadi. Sk KPAnya nyusul deh”. Sayangnya tidak ada respon dari mereka. Mungkin kami belum terkoneksi jaringan telepati sehingga tatapanku lebih diartikan sedang kelelahan saja, hahahahha.

***

Cuaca hari sabtu tanggal 11 Desember 2021 begitu indah. Seharusnya kulalui dengan membersihkan rumahku yang cuman berapa kali berapa. Mengosongkan keranjang cucian kotor dan menggosok bersih pakaian yang nyaris 2 minggu belum disetrika. Seharusnya…

Nyatanya, pada hari tersebut aku lebih suka nongkrong di kantor. Rasa cemas melandaku. Padahal yang namanya hari sabtu dan minggu adalah hari yang haram banget deh untuk diganggu!

Kugunakan sabtuku untuk berkutat didepan leptop. Membuat sk kpa non pns secara mandiri. Tanpa melewati bagian persuratan yang menjadi tupoksi mereka. Bodo amat daaaaagh! Tepat pukul 11.00 wita, sk kpa-ku selesai. Lalu menghubungi kawanku yang memiliki koneksi dengan asisten pak rektor. Juga melempar di WA grup mengenai semangatku pada hari ini.

Alhamdulillah semua responnya positif, teman-temanku memberi dukungan, karena kami sesama pejuang deadline tau bangetlah rasanya gimana “hak-hak” orang jika gagal terbayarkan. Hingga mereka memberi akses nomor kontak asisten pak rektor dan pukul 12.00 sk kpa dosen non pnsku telah ditandatangani oleh pake rektor. Terima kasih. Sisa nomor sk kpa ajah. Tetapi senin juga bisa kok.

Namanya juga usaha ya, aku masih menghubungi beberapa pegawai di bagian persuratan. Memohon dengan antusias agar diberi kemudahan jalan. Aku meminta nomor sk agar bisa di booking untuk hari senin. Nomornya saja, sk KPA belakangan menyusul tak apa. Itu karena aku menghargai tupoksi mereka, sehingga bila terdesak, barulah sk kpa yang aku urus sendiri yang akan aku serahkan ke Arif.

Tak ada balasan…

Aku juga menghubungi rekananku sesama bendahara gaji untuk mencari akses nomor sk kpa. Nihil…

Hingga beberapa jam kemudia muncul balasan di Wa, jika leptop rekap nomor surat ada di kantor. Astaga, aku sampai lupa meminta nomor sk di hari libur.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap diri yang sukses mengakses tanda tangan pak rektor tanpa sepengetahuan bagian persuratan, aku memanjakan diri di sebuah klinik kecantikan langgananku di Kota Kendari. Sempat-sempatnya yaaaaa! Hahahahaha.

Ketika wajahku sedang dibersihkan sel-sel kulit matinya, Arif menelpon.

Kak, ini kenapa rekeningnya bank Muamalat?”

Laaah, memang bank muamalatkan gaji dosen non pns?”

Bank Sultra atuh kakaaaaak

Sejak kapan Bank Sultra, Arif?” aku yang ngotot lagi tak tau malu.

Perdebatan di atas jelas siapa yang kalah. Bukan mengalah yaaa, jelas-jelas aku yang salah. Gegara menghitung sisa anggaran untuk pembayaran tunjangan Guru Besar dengan FKIP yang rekeningnya bank Muamalat, secara tidak langsung ikut terekam di alam bawah sadarku bahwa pembayaran itu jatuhnya di bank Muamalat.

Tuhan, apalagi ini?

Yang seharusnya aku bisa refreshing di klinik tanpa memikirkan sk kpa yang belum selesai ditangani bagian persuratan, yang terjadi aku malah ketar-ketir. Bayangan gagal pembayaran menghantui pikiranku. Segera ku telpon temanku yang memiliki koneksi di bank Sultra.

Besar harapan pada hari H deadline, 13 Desember pagi-pagi buta, kami sebagai nasabah prioritas lah yaaaa. Kalau bisa bebas antri! hahaha. Wajahku mulai diberi krim anastesi. Kemudian disuruh rileks. Tapi tanganku tidak bisa rileks. Sibuk menelpon kesana dan kemari. Dan pada akhirnya aku dapat akses. Bukan pada hari senin. Melainkan besok. Iyaaaaa, besok 12 Desember 2021, kantor KAS Bank SULTRA Lapulu buka!

Bagai mendapat durian runtuh, aku menghubungi dosen-dosen non pns. Menceritakan secara singkat kesalahan yang kulakukan, lalu berterima kasih dan bertanggung jawab dengan cara ikut menemani mereka ke Lapulu. Cukup yaaa dramanya, cukup! Akhirnya aku betul-betul rileks dan sedikit tertidur ketika wajahku sedang digerayangi.

***

 

Biasanya, hari minggu apalagi jika masih kategori subuh, aku lebih suka mencium bantal dan melanjutkan tidur. Atau biasanya janjian sama Anak lelakiku untuk maen ke timezone. Tapi kini, masih pagi-pagi aku sudah disini. Bertanggung jawab atas kesalahan yang kuperbuat, wkwkwkwk.

 

Aku menunggu mereka berurusan hingga pukul 12.00 wita. Tak masalah lah yaaa, yang penting fotocopy buku rekening bank Sultra mereka ada dalam genggamanku, hahahaha. Kemudian bergegas aku ke kantor. Bukan di FKM melainkan di rektorat, untuk menyerahkan berkas yang tertunda.

Setelah Arif mengatakan “Oke kak, done”. Aku pamit undur diri. Pulang tiduuuuuur. Satu yang terlupa, aku lupa membawa ole-ole hasil perjuanganku di Lapulu. Pisang kek, bubur kacang ijo kek apakek, sebagai bentuk solider kepada sesama pejuang deadline, wkwkwk..

Maafkan KAKAAAK RAAAYA YA ARIIIIF!

****

Cihuuuuuuuuy…

13 Desember 2021. Hari yang mendebarkan. Selain karena deadline segala macam bentuk pembayaran, juga data di KPPN ada something wrong dengan gaji FKM dan MIPA. Terselip nama “widodo” yang tidak kami ketahui sapaaaa dia. Tidak mungkin dong orang nomor satu di Indonesia gajian di satker -Satuan Kerja- kami, heheehe. Mustahil! Sehingga untuk mencari siapa widodo itu, mengharuskan kaki menginjak kantor KPPN. Tapi sebelumnya, urusan sk KPA Dosen Non Pns belum selesai.

Walaupun telah mengantongi tandatangan pak Rektor tetaplah nomor surat diperlukan. Karena memang nomor surat itu sakral di aplikasi pembuatan gaji. Tanpa firasat apapun juga aku melangkahkan kaki ke bagian persuratan. Mencekam…

Aku mendekati pegawai yang telah kuhubungi sebelumnya lewat wa untuk meminta nomor sk. “SK KPA DOSEN NONPNS FKM belum selesai” Ia berkata tanpa memandang wajahku yang habis perawatan sabtu kemaren!

Aku santai doong.. Secara sudah mengantongi sk kpa yang sudah ditandatangani langsung oleh pak Rektor. Lalu mengulangi kembali kalimat yang pernah aku sampaikan padanya lewat aplikasi whatspp yang dibalas langsung olehnya setauku. Bahwa hari ini adalah deadline pembayaran gaji dosen non pns.

Iya kami tau hari ini deadline, tapi mau diapa kalau sk-nya belum selesai” sahut teman ruangannya. Perempuan.

Oke kalau belum selesai, tapi bisakah saya booking nomor sk-nya saja? Saya butuh, bu

Nomor sk tidak bisa keluar kalau belum ada tandatangan rektor” sahutnya lagi. masih teman ruangannya. Sedangkan si pegawai yang aku temui tadi matanya masih menatap layar leptop sambil jarinya mengetak ngetik sesuatu yang entah apa itu.

MURKALAAAAAH IBU RAYA!

“APA?” Kataku mulai ketus dan mulai terprovokasi setan. “Kalau ibu mau tau, saya sudah dapat tandatangan rektor! Saya cuman minta nomor sk! Lagian SK sudah saya masukkan sejak 29 November, sampai sekarang tidak ada. Mau nunggu kapan, hah?”

Itu SK ilegal kalau ibu sendiri yang bikin, bla bla bla bla bla bla

Ya gimana saya ndak sendiri coba kalau disini belum selesai sk-nya? Bu, hari ini batas pembayaran. Saya cuman minta nomor sk ajah. Dan saya tetap menunggu sk resmi dari ruangan ini

Ibu ini kenapa tidak sabaran? FIB juga masih dibikin sk-nya tapi tidak sengotot ibu. Tolong hargai pekerjaan kami, supaya kami juga menghargai ibu” Sahut teman ruangannya lagi. Kali ini laki-laki. Aduuuuuh!

“KENAPA IBU MEMBUAT SK KPA SENDIRI? SIAPA YANG SURUH, IBU? IBU JANGAN LANCANG!” Teriaknya dengan volume yang lebih nyaring dari teriakan Freddie Mercury saat menyanyikan lagu we will we will rock you! Duuuuh lelaki…

Paling malas berdebat sama laki-laki, apalagi kalau tidak mengetahui akar permasalahannya. Berasa buang-buang waktu. Jadinya aku mengunci perdebatan dengan kalimat “Jadi sekarang gimana? Solusinya macam apa? Karena saya hari ini batas deadlinenya“.

Setelah perdebatan cukup mereda, si lelaki berjanji akan membawakanku sk kpa yang sedang digarap oleh temannya, aku menuju ke ruangan berikutnya. Ruangan Ibu Ika. Bendahara gaji rektorat. Tak lupa menceritakan apa yang aku alami tanpa sensor. Tanganku yang dingin menjadi saksi, bahwa aku habis murka di ruangan sebelah.

Bu Ika dan beberapa teman bendahara gaji yang mengetahui lika liku perjalananku selama tiga (3) hari langsung tancap gas menuju ruangan sebelah. Seolah ikut merasa tersakiti “ayoooooo kita kesana. kita sudah deadline begini, lama lagi gerakannya”.

Karena kami datangnya bergerombolan sehingga mereka mikirnya kita ngajak tawuran, hahaha. Lalu kata si ibu temannya si pegawai tadi “Bagaimana ibu Raya banting meja, jadilah kami bersuara keras

Apa katanya tadi? Banting meja? Buuuuu, akutuh kalau marah banting orang! Tetapi aku lebih memilih diam. Menetralkan gejolak asam lambung yang naik.

Lalu si lelaki tadi pergi mencari pak Bendahara untuk dimintai parafnya pada sk kpa yang baru launching dari ruangannya. Lalu aku melapor mengenai sk kpa yang sepertinya berita ke-murka-anku sudah tersebar ke telinga bos-bosku. Bapak bendahara satker kami dan ppk -pejabat pembuat komitmen- yang ditanggapi “Kan sudah ditandatangan pak Rektor kenapa dipersulit sih?”

Setelah semua drama berakhir dengan bahagia, aku mendapatkan nomor sk KPA dosen non pns dan langsung di masukkan ke aplikasi gaji dan alhamdulillah lolos! 5 hari kemudian mereka gajian. Horey!

Misi Berhasil, gaes

***

Pukul 13.00 wita, setelah makan siang, ragaku sudah tiba di KPPN bersama bendahara gaji FMIPA, ibu Ima. Mencari jejak Widodo yang di dalam daftar nama pegawai kami. 30 menit mencari bersama, diputuskanlah untuk membuat kembali gaji induk untuk bulan Januari 2022 atau kalau tidak, 2 fakultas tersebut tidak gajian! hahahaha.

Keberuntungan dipihak kami, setelah melakukan pengulangan, jejak Widodo tak nampak lagi dalam daftar pegawai kami.

Langit sore mulai menjingga ketika urusan kami selesai. Stresku yang sepertinya menguasai diriku mulai turun dan tergantikan oleh naiknya asam lambung. Jadi untuk mengenang kejadian heroik ini, kuputuskan untuk mengambil foto bersama. Agar tigabelas Desember 2021 tak akan terlupa dalam ingatan.

Pesan Moral : Berbuat baiklah kepada semua orang, karena kita tidak tau, kebaikan mana yang akan menolongmu di kemudian hari.

 

Salam,

Raya.

(Visited 12 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: