danau napabale
sumber gambar : Kendariinfo
20220717_140104
Menikmati Pesona Indah

Menikmati Pesona Indah Danau Napabale

Menikmati pesona indah danau Napabale yang terletak di Kota Raha Provinsi Sulawesi Tenggara. Salah satu destinasi wisata yang kata orang-orang yang telah berkunjung kesana adalah surga tersembunyi di Desa Loghia. Surga? Setiap orang memiliki gambaran mengenai definisi surga. Ya kan? Saya, anda dan semua orang pasti pernah mengilustrasikan surga.

Tidak salah jika pengunjung mengilustrasikan surga seperti danau Napabale, karena saya pun demikian. Ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya setelah nyaris 30 tahun tak pernah mengunjungi Napabale, i said Napabale semacam hidden paradise. Ooooh welcome to my paradise.

Saya terpukau oleh kecantikan danau Napabale. Sumpaaah, cuantik bangeeet, waaaa. Perasaan waktu tahun 1991, Napabale, B ajah menurut memori saya, wkwkwk. Kenapa sekarang justru kelihatan so so so so byudipul. Airnya hijau bening, saking beningnya, anda bisa melihat dasar danau. See…

Danau Napabale berada di bawah kaki bukit dan dikelilingi oleh bongkahan-bongkahan batu karang yang ditumbuhi oleh pepohonan hijau. Danau Napabale ini, salah satu destinasi wisata favorite kebanyakan penduduk kota Raha. Gak cuman warga lokal ding, wisatawan luar Kota Raha pun biasanya menjadikan Danau Napabale list nomor 1, wisata yang wajib banget kita kunjungin.

Butuh Healing Garis KerasΒ 

Secara tidak sengaja kami menginjakkan kaki di danau Napabale pada pertengahan bulan Juli tahun 2022 dalam rangka mengobati luka hati akibat rindu dendam yang membara dalam sanubari kami. *Slebeeew*. Luka hati karena mau maen sama mama tapi mamanya udah gak ada. Gitu looo. Penasaran? Ceritanya bisa kamu baca disini.dan disini.

Sejujurnya kami tidak ada niatan ke danau Napabale, ciyuuuuus. Kami mengunjungi Kota Raha ya cuman mau healing ajah mau mengunjungi keluarga di Kota Raha. Karena kami asalnya emang dari Raha jadi sekali mendayung 3 pulau terlampaui *wadidaaaw* sekaligus menghadiri acara nikahan keluarga dekat kami juga.

Kebetulan yang sangat indah, bapak mau mengecek tanah warisan leluhur yang lokasinya sejajar dengan arah menuju Danau Napabale, makan tersesatlah kami di sana, hahaha. Di danau Napabale maksudnya.

Melihat cantiknya danau Napabale seperti obat bagi kami-kami ini yang sedang tidak baik-baik saja. Oh tolong yaaaaa, yang namanya rindu pada seseorang yang orangnya udah pulang ke kampung akhirat tuh bedaaaa banget sama rindu kepada seseorang tapi orangnya masih hidup.

Kalau cuman berat diongkos, kita bisa cari cuan untuk menebus rindu. Memeluk seseorang yang kita rindukan, menghadiahi ribuan ciuman sayang, dll. Jika rindunya beda alam, beda banget rasanya dan perlakuannya tentu beda. Thats what hurts.

Ya, namanya takdir Allah ya, waaaa, kita gak bisa memilih dan wajib banget menerima takdir sebagai bentuk pengamalan salah satu rukun iman dalam hidup kita. Jadi, yang masih memiliki orang-orang terkasih dan tersayang, jangan lupa selalu menghadiahi pelukan, ciuman dan ciptakan kenangan baik, karena ketika kita telah pergi, hanya kenangan baik dan indah yng kita tinggalkan.

Hooooooi, ini cerita tentang Napabale, hooooooi. Kenapa jadi mengsedih gini sih? Hahahaha.

Lanjuuuuuuut…

Karena bapak memiliki anak juga ponakan yang gatal air (BACA : SUKA MAEN AIR), akhirnya beliau setuju saja ketika kami ingin mengelilingi Danau Napabale. Aslinya babeh gak mau, ahhahaha. Kami menaiki sampan khusus. Sampan yang sudah dirakit menjadi dua.

Menyatukan dua sisi sampan dengan jenis dan ukuran yang sama. Sehingga keseimbangan sampan bisa terjaga dengan menggunakan satu mesin dan juga satu kendali yang sama. Karena kebanyakan dari kami gak bisa berenang, wkwkwk.

Kebayang dooong kalau cuman naik sampan terus sampannya goyang dan kita menyeburkan diri ke danau, bunuh diri mah itu namanya, hahaha. Olehnya biar healingnya aman dan terkendali, kami menyewa sampan yang isinya duuuuuuuua.

Dibanderol sebesar 50.000,- kami mengelilingi danau Napabale dengan hati riang gembira.

Gagal Memasuki Terowongan Danau Napabale

Sayangnya saat itu kami datangnya siangan, coba kalau pagian dikit, pasti bisa melewati terowongan ini. Saat kami ingin melaluinya, airnya full doong a.k.a air pasang sehingga menutupi nyaris seluruh terowongan. Jadinya gak bisa masuk.

Terowongan yang bersumber dari batu karang inilah yang memisahkan antara danau Napabale dan pantai Napabale.

Ada 2 cara kalau mau menuju pantai pasir putih Napabale.

  1. Melewati terowongan Napabale yang langsung menghubungan dirimu dan Pantai Napabale. Gak pake capek jalan kaki karena sampannya langsung menuju pantai. Tetapi karena saat itu airnya pasang, sehingga kami hanya menelan impian untuk bisa memasuki terowongan ini. Belum rejeki, gaes πŸ˜€

  2. Jalan Kaki. Mo tau gimana serunya jalan kaki menuju pantai Napabale? Simak terus ceritanya ya gaes, hihihi πŸ˜€

Karena tidak sukses menembus terowongan Napabale, kami berfoto saja di depan terowongan yang sudah tutup oleh air. Sebagai bukti otentik pada danau Napabale, bahwa kami gagal menembus terowonganmu, ayank.

Pantai Pasir Putih Napabale

Selanjutnya kami menuju pantai Napabale dengan modal jalan kaki. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 20 menit dengan jarak tempuh 1 km. Lokasinya berada di seberang Danau Napabale yang hanya dipisahkan sebuah bukit.

Namun wisatawan juga harus menyeberangi danau tersebut dari satu sisi ke sisi yang lain. Sebab tidak adanya jalan lain karena kondisi danau yang berbukit dan berbatu.

Setelah menempuh perjalanan yang agak horor (menurut saya yang takut banget sama ulaaar), akhirnya bunyi desiran ombak yang menabrak batu karang terdengar. Voilaaaaaaa, pantai Napabale mulai dekat.

View favorite saya banget, gunung dan pantai, minus sawah hijaunya ajah. Melihat hamparan air laut yang berwarnah hijau dan airnya jernih mendadak luka hati kami hilang tergantikan oleh kegembiraan. Penyakit gatal air saya pun meronta-ronta, hahaha.

Setelah foto-foto sebagai kenang-kenangan, kami segera nyemplung ke pantai. Menikmati arus air yang menggiring kami ke tengah pantai. Tapi heeeeeits bikin ngeri karena saya tak tau berenang, wkwkwk.

Karena gak tau berenang, akhirnya saya menyewa ban yang dijadikan sebagai pelampung biar gak kelelep minum air se-pantai sambil berniat balik ke Kendari wajib banget kursus berenang, hahaha. Biar bisa snorkling tipis-tipis menikmati keindahan bawah pantai Napabale.

Orang sekitar yang melihat kami heboh dengan pantai seakan jidat mereka ada tulisan dengan font segede gajah yang bunyinya begini “kasian beut sih anak-anak ini, gak pernah melihat pantai apa?

Di Kendari banyak juga pantai, tetapi airnya kebanyakan keruh dan tidak jernih. Bikin malas nyemplung. Berbeda sekali dengan pantai yang saat ini kami datangi, super duper jernih.

Beberapa kali bapak mewanti-wanti agar maen airnya jangan lama-lama, takutnya bakalan kemalaman kalau mau ke kampung.

Mayanlaaaah yah 2 jam maen air bikin tikus-tikus dikaki kambuh, wkwkwk. Andai tidak kambuh, pastilah main air tetap berlanjoets.

Waktu menunjukan jam 4 sore dan kami mesti kembali ke Kota Raha untuk melanjutkan perjalanan menuju Kampung Halaman bapak.

So far so good dengan kegiatan menikmati pesona indah danau Napabale. 8/10. Andai pemerintah setempat memelihara dan menyediakan tempat berganti pakaian yang layak serta wahana bermain seperti flying fox, banana boat dan lainnya, pasti wisata Danau Napabale ini makin melejit mengangkasa.

Terima kasih sudah ikut Menikmati Pesona Indah Danau Napabale lewat tulisan ini, saya doain, anda yang membaca tulisan ini bisa ikutan menikmati pesona indah danau Napabale secara live! Langsung dari Kota Raha. Amin…

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Raaaaaaaya (@rayamakyus)

(Visited 26 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: