8

Oh, Jadi Gini Rasanya Gak Punya Mama…

Oh, jadi gini rasanya gak punya mama.
Oh, jadi gini rasanya kehilangan.
Oh, jadi gini rasanya sesak oleh sakit akibat penyesalan
Oh Tuhaaaaaan

10 hari sudah mama pulang ke kampung akhirat. Kampung yang pada akhirnya kita semua pun akan menyusul kesana -namun entah kapan- hanya Allah yang tau pasti. Kilatan-kilatan memori saat mama 10 hari terbaring di rumah sakit lalu pulang ke rumah lalu masuk ICU lalu garis lurus yang tercetak dari mesin rekam jantung menandakan bahwa FIIIIX GUE GAK PUNYA MAMA masih sangat membekas.

Antara yakin dan tidak kalau mama beneran udah pergi. Perawat yang saat itu ikut merawat mama hanya bisa menepuk-nepuk bahu gue tanda prihatin. “Sabar bu” begitu katanya.

Kemudian gue berbisik di telinga mama. Mengucapkan Laa Ilaha Ilallah sambil memegang tangannya. Dingin. Seperti teh kotak yang sering gue taroh di freezer.

Gue sentuh badannya. Masih hangat. Gue panggil lagi “maaaa. mama. mama” dengan suara lembut. Perawat mengemasi sisa-sisa perjuangan mama yang berupa selang kateter, selang makan dan beberapa alat yang terpasang di tubuhnya.

Begitu tandu jenazah datang menjemput emak gue, ooooh oke, gue udah gak punya mama.

***

Begini ceritanya…

Walau belum sembuh total, pilihan pulang ke rumah adalah solusi yang gue tawarkan ke bokap. 10 hari perawatan tanpa perkembangan yang signifikan. Diagnosa parkinson mengguncang jiwa mama. Mama yang parnoan, mendadak terkena serangan cemas dan bikin imunnya turun mendengar diagnosa tersebut.

Karena kata dokter yang menangani mama, kalau mau nunggu sakit pinggangnya beneran hilang, bisa menghabiskan waktu 1 tahun. SATU TAHUN! Satu tahun kita ngontrak kamar vip di rumah sakit. Parkinsonnya alhamdulillah teratasi dengan baik. Gak ada tremor lagi. Tapi mau melanjutkan perawatan rasanya…

Bukan masalah budget. Tetapi…

aaaaah sudahlah yaaaa.

Seminggu mama di rumah. Sayangnya, gue gak bisa selama itu untuk membersamai bokap dan adik untuk merawat mama karena Allah menghadiahi gue cobaan baru, Ucup kena tipes dengan gejala awal demam tinggi 39 derajat celecius. Demamnya gak turun-turun selama 3 hari. Ya gue ngeri dooong.

Gimana korelasinya gue gak ngerti, karena begitu Ucupyo demam, mama ikutan solider sama cucunya. Panas mama pun mencapai 39 derajat. Gue absen 3 hari tidak merawat mama.

Setelah melarikan Ucupyo ke dokter anak dan mengetahui hasilnya bahwa Ucup rawat jalan saja tetapi syaratnya HARUUUUUS ISTIRAHAT TOTAL membuat gue lega dan bisa membawa Ucupyo ke rumah mama. Selaras dengan pepatah “sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui”.  Merawat mama sekaligus merawat Ucupyo.

Mama drop. Hilang kesadaran. Hilang respon. Anehnya, respon makan ada. Tandanya? Mama mau mengunyah. Hari berikutnya tepatnya tanggal 15 Mei 2022, respon makan mama gak ada. Mama sama sekali gak mau mengunyah. Gue lapor ke bokap. Lalu bokap mengambil alih piring dan menyuapi mama.

Mama makan doong. 1 piring habis!

Tapi ya gitu, gak ada respon apapun. Dicubit pun gak respon. Ucup histeris di sampingnya pun mama gak respon. Biasanya, kalau Ucupyo histeris sambil maen di sekitar mama, mama bakalan ikutan histeris untuk melarang cucunya ribut.

Malamnya, kita langsung ke UGD. Karena kondisi mama yang demam plus no respon. Sirine mobil ambulance membuat suasana kompleks rumah mama heboh.

Beberapa orang ikut membantu mengevakuasi mama ke mobil ambulance. Ucupyo nangis-nangis. Mau ikut naik mobil ambulance, katanya dia mau trip my adventure. Aduuuuh.. padahal dia kan butuh istirahat.

Selang oksigen terpasang di hidung. Gue komat-kamit berdoa sambil memanggil-manggil mama. Mobil ambulance melaju tanpa hambatan ke rumah sakit. Air mata gue tumpah.

Syukurnya rumah sakit yang kami datangi tanggap darurat. Waktu gue lapor kalau mama hilang kesadaran, situasinya mirip di drama korea yang gendrenya rumah sakit gitu. Beberapa perawat dan dokter datang menghampiri mama sambil memasang beberapa alat pada tubuh mama untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Keren deh pokoknya aksi mereka.

Tekanan darah, normal

Nadi, normal

Rekam jantung juga, normal

Suplay oksigen, normal

TAPI MAMA GAK RESPON APA-APA.

Dokter UGD juga puyeng mau memasukkan mama ke kamar perawatan atau ICU. Lalu jam 2 malam setelah rapat koordinasi dengan dokter ahli saraf dan ahli dalam, maka putuslah kesepakatan bahwa mama masuk ICU.

Melihat kondisi mama yang no respon, khawatirnya ketika mama makan, makanan malah masuk ke saluran pernapasan dan bukannya saluran cerna. Sehingga ruang ICU adalah pilihan tepat untuk memantau kondisi mama. Jika kondisi mama stabil, baru deh masuk ruang perawatan.

Oh gue berdoa kencang kepada ALLAH, semoga emak gue bisa masuk ruang perawatan. Amin.

Ketika kami lebaran di rumah sakit. Kondisi mama masih sadar.

 Ketika kami lebaran di rumah sakit. Kondisi mama masih sadar.

Liburan gue kali ini benar-benar temanya rumah sakit. ICU, pula! Jauh berbeda dengan tema libur lebaran gue sebelumnya. Ya walaupun temanya sama, rumah sakit, setidaknya, gue masih godain mama. Masih bisa cucurita sama mama. Ucupyo juga bisa bikin mama histeris karena mau tidur seranjang sama mama.

Liburan kali ini, mata gue bukan mengawasi deburan ombak pantai. Bukan mengawasi Ucupyo yang asik maen air di Kebun Raya Kendari. Bukaaaan. Liburan gue kali ini mengawasi angka dalam monitor. Mengecek detak jantung mama.

Ada rasa takut. Takut kehilangan mama. Dan sialnya ketakutan itu menjadi kenyataan. Seharusnya gue lebih siap menerima kenyataan ketika Allah memberi gue firasat. Setidaknya itu definisi firasat menurut gue.

MIMPI MAMA MAKAN BERSAMA KAKEK NENEK YANG DULUAN PULANG KAMPUNG

Kejadiannya sekitaran bulan Maret lupa tanggal berapa. Dalam mimpi, mama sedang makan bersama kakek nenek dan beberapa jenis nenek yang gue kenali sebagai nenek gue di masa kecil. Nenek kandung dan sepupu-sepupu nenek lainnya.

Mama duduk bersebelahan dengan mamanya alias nenek kandung gue. Wajah nenek gue cuwantiiiiiik. Pun dengan wajah mama. Wajah mama dalam mimpi gue adalah wajah saat gue umur 5 tahun. Wajah muda yang bercahaya nan mempesona.

Nenek menawari gue ikutan makan bersama. Tetapi gue memilih untuk mencari anak dan suami lalu kemudian ganti baju.

Selang beberapa minggu, gue kembali memimpikan mama dalam keadaan berwajah muda. Kata orang, kalau memimpikan seseorang berubah menjadi muda kembali dan sedang makan bersama “orang-orang pendahulu ke kampung akhirat” artinya bakalan nyusul juga.

Mimpi itu gue tepis. Aaaaah, mungkin gue sedang sakit sehingga mimpinya jadi aneh dan mengerikan seperti itu.

MAMA LEBIH SENANG MAEN KE RUMAH

Sejujurnya, perkara gue hengkang dari rumah mama dan menjadi nyonyah di rumah sendiri adalah perkara sulit dalam hidup gue. Antara memilih mama dan suami. Gue anak sanguin yang berotasi dalam kubangan libra, dikasih pilihan begitu ya ambyaaar jadinya.

Pilih mama ketimbang suami, ya gue bisa jadi bagian dari kerak neraka. Jelas-jelas ayatNya bahwa surga istri terletak pada suaminya.

Gue gak suka memilih hal yang dua-duanya gue sukai. Andai disuruh milih beli sepatu dan jam tangan, gue bakalan milih keduanya, wkwk.

Melihat gelagat mama yang akhir-akhir ini suka nongkrong di rumah, artinya almarhumah telah ridho anaknya pindah rumah dan menjadi ketua geng dalam rumah tangganya sendiri.

Selama ini, mana mau mama ke rumah? Alasannya buwanyaaaaaak. Namun belakangan ini, beliau rajiiiiiiin ke rumah. Nongkrongnya cuman sejam doang. Terus pulang. Begitu terus setiap minggu.

Seharusnya gue cutiiii dan benar-benar nemanin mama di rumah. Di rumah gue yang dibenci oleh mama pada awalnya, lalu entah mengapa mama tiba-tiba sangaaaaat mencintai rumah gue.

Baca : Balada Mencari Hunian

GAK MAU NATAP MATA

Sependek ingatan gue yaaa, mama udah gak pernah kontak mata. Apalagi saat gue jahilin di rumah. Beliau kebanyakan melihat ke arah lain. Begitupun selama 10 hari di rumah sakit, beliau enggan untuk membuka mata. Gak mau melihat sekelilingnya.

Adapun kalau buka mata gak mau kontak mata sama orang. Begitupun di rumah, ICU dan pada akhirnya ia pergi selama-lamanya…

2 hari sebelum ia pergi, gue minta maaf sambil nangis-nangis. Karena mama sama sekali gak respon, gue tanya “kalau mama maafin Raya, buka mata mama doong”

Mama membuka matanya untuk gue selama 3 detik. Lalu nutup lagi dan udah gak mau lagi membuka mata walaupun gue melolong sehari semalam.

Oh, Jadi Gini Rasanya Gak Punya Mama…

“KAMU PIKIR ENAK GAK PUNYA MAMA, HAH?”

“NANTI KALIAN AKAN MENYASAL DAN BAKALAN INGAT MAMA TERUS”

Begitulah omelan mama setiap kali beliau marah atau jengkel terhadap kami anak-anaknya. Apalagi waktu kami masih muda dan mencari jati diri duluuuuu sekali, beugh ampun-ampunan dagh. Ampun-ampunan ngejahilin mama terus.

Kami menjulukinya “MENKES” karena hidupnya yang serba sehat. Sampai gak pernah makan diluar saking sterilnya makanannya. Gak bisa sembarangan makan. Bawa pulang gorengan? Makanan cepat saji? Atau makanan luar? Jangan harap deh, mama mampu mengendus aroma gorengan ataupun makanan yang bukan hasil olahan tangannya radius 1 kilometer.

Kalau kedapatan? Makanannya bakalan dibuang atau dikasih ke orang lain dan kita-kita kena omelan selama 2 hari. Nangis gak sih?

Anak-anaknya pada backstreet doong. Untuk menenggak gorengan saja, mesti tunggu jam pulang kantor dulu. Lalu buru-buru membersihkan hasil kejahatan dan pulang ke rumah dalam keadaan ceria dan seolah-olah kelaparan karena belum makan.

Selasa (17 Mei 2022) siang mama makin drop. Saturasi menurun drastis, mencapai angka 56-60. Tensi menurun drastis. Normalnya 130/100 menjadi 60/56. Saudara-saudara mama sudah ngumpul. Kami semua sudah mentalkin mama. Sedih banget melihat mama dengan bantuan oksigen yang super besar.

Selasa malam jam 12, Ucupyo tetiba nongol di ICU dan kepengen tidur bareng neneknya. Kami-kami yang menjaga mama histeris doong. Mana masih dalam penyembuhan, eeeeh gentayangan di ICU pula! Akhirnya gue tuntun Ucupyo ngomong ke mama.

“Nenek, Ucup sayang sama nenek. Nenek cepat sehat yaaaaa”

Kemudian gue usir Ucupyo dari ICU. Lalu kembali mentalkin mama. Rabu, 18 Mei 2022 pukul 04.00 subuh, mama pergi untuk selamanya.

Kini, kalimat andalan mama “KALIAN PIKIR ENAK GAK PUNYA MAMA?” terbukti sudah.

Ga enak maaaaa.
Gak enak, sumpah!
Raya bingung mau ngapain di rumah, ma.
Karena biasanya, mama yang paling heboh mengurus segala sesuatunya di rumah.

Hingga detik ini, gue masih “memaksakan” diri menerima kenyataan bahwa mama udah gak ada. Ikhlas itu ternyata berat, tsay.

(Visited 60 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: