0

Rebusan Daun Sambiloto. Ramuan Tradisional untuk Menurunkan Demam

Rebusan Daun Sambiloto. Ramuan Tradisional untuk Menurunkan Demam yang telah digunakan dari generasi ke generasi dalam keluarga besar gue. Ramuan ini sangat dipercaya dapat menurunkan demam ataupun meredakan gejala flu.

Tersebutlah di dunia ini ada jenis dedaunan yang rasanya pahit kayak kehidupan gue tapi tokcer banget khasiatnya. Dia adalah daun sambiloto. Si daun yang nama aslinya Andrographis Paniculata Nees banyak ditemukan di Asia dan India tetapi rupanya di Indonesia juga ada. Salah satu kesyukuran gue juga karena daun tersebut hidup dan tumbuh di sekitaran kantor.

Belakangan ini Daun sambiloto sedang naik daun karena ketokcerannya dalam mengatasi corona dengan gejala ringan. Hal tersebut didukung oleh hasil studi yang diterbitkan NCBI dimana terdapat kandungan di dalam daun sambiloto yang berpotensi sebagai penghambat dalam mekanisme replikasi virus, yakni androgapholide (health.detik.com-yuk kenalan dengan sambiloto herbal antivirus yang lagi naik daun).

Saking fenomenalnya beberapa produk obat menjadikan daun sambiloto sebagai bahan utamanya. Tak terkecuali di dalam keluarga gue. Daun sambiloto sudah terkenal ditelinga semenjak gue masih kecil. Ketika tubuh tiba-tiba demam, daun sambiloto adalah pertolongan pertama untuk menurunkan demam dan gejala flu yang biasa menyertainya.

***

Seminggu yang lalu pak suami terserang flu. Demam, menggigil, sakit tulang-tulang, sakit kepala, radang tenggorokan dan ingusan. Dua hari kemudian, gue mengikuti jejaknya yang ikut terjangkit flu dengan gejala yang sama ia derita. Aduh, kalau bapak dan ibu sudah sakit, rasanya porak-poranda sebuah rumah tangga *halaaah*. Alhamdulillahnya anak kami sehat wal’afiat. Dan harapan gue sampai detik ini, doi tidak terpapar virus dari emak dan babehnya.

Ketika sedang membolak-balik sapu tangan yang dipermak menjadi alat kompres di dahi, memori gue jaman masih kecil sedikit terlintas. Ahaaaaaa, daun sambiloto! Kenapa gue tidak mencobanya kembali? Terakhir menggunakan daun sambiloto ketika Ucupyo berusia 4 tahun.

Setelah menelpon teman kantor untuk disusahi sedikit, akhirnya daun sambiloto berada digenggaman. Cara bikinnya gampang banget kok. Ambil sekitaran segenggam tangan. Cuci bersih. Kemudian rebus dengan air sekitaran 3 gelas belimbing. Hasil akhirnya adalah 3 gelas air untuk 1 gelas air.

Rasanya?

Oh… jangan ditanya say, pahiiiiiiiiiiiiiit! Kalau pada paragraf awal gue sempat bilang bahwa pahitnya sama kayak hidup gue, gue revisi deh! Pahitan daun sambiloto ketimbang hidup gue. Suer! Hidup gue masih ada manis-manis jambu kristalnya. Tapi rebusan daun sambiloto, tak ada sama sekali!

Rasa pahitnya sama kayak lagi nelan obat antibiotik puyer terus lupa minum air. Rasa pahitnya terkenang hingga beberapa hari. Atau kita lagi minum obat yang pahit nih ceritanya, walaupun udah minum air, pahitnya masih terasa. Walau udah makan 1 sendok teh gulasir pun rasanya tetap tertinggal. Nah, seperti itu pula rasanya rebusan daun sambiloto.

Itu review dari gue ya. Beda cerita ama pak suami. Beliau sepertinya doyan sama rebusan daun sambiloto. Beliau meminum daun sambiloto sama kayak minum es teh. Nagih!

Tidak ada raut wajah yang aneh. Segelas rebusan daun sambiloto tertelan dengan sempurna. Wadidaw, mantaaaap! hahahhaa.

Reaksi Rebusan Daun Sambiloto. Si Ramuan Tradisional Turunkan Demam

Setelah menenggak segelas rebusan daun sambiloto, gue memilih untuk tidur. Mengistirahatkan badan dan pikiran. Kalau lagi demam atau sakit bawaannya overthinking. Segala hal rupa-rupa warnanya ikut kebawa arus pikiran. Hadeuh! Jadi, tidur adalah pilihan yang tepat untuk beristirahat.

Bangun tidur, gue mendapati diri ini seperti habis mengikuti lomba lari. Baju basah oleh keringat. Terus minta tolong pak suami untuk di cek suhu badan. Eh udah normal ajah, alhamdulillah. Angka termometer berada pada angka 38 derajat. Aman sih ini. Sudah bisa ngemil es krim hula kacang ijo. Padahal sebelumnya menembus angka 40.

Sama halnya dengan reaksi tubuh pak suami setelah menenggak ramuan daun sambiloto. Demamnya turun, alhamdulillah. Malam sebelum tidur, beliau kembali minta di rebuskan daun sambiloto. Biar keesokan harinya makin fit insyaallah. Gue? Ogaaaaaah! hahahaha. Sekali minum ajah. Biar selebihnya semesta yang bekerja untuk kesembuhan ini *tsaaaah*.

***

Bukan berarti karena kami mengonsumsi rebusan daun sambiloto lalu tidak memeriksakan diri ke dokter. Keesokan harinya kami mengunjungi dokter keluarga. Menceritakan sakit yang kami derita. Lalu diberi resep obat penurun demam dan vitamin. Dengan syarat utamanya wajib istirahat di rumah.

Karena gak tahan nyimpan rahasia leluhur, akhirnya gue menceritakan ke dokter mengenai ramuan daun sambiloto yang kami konsumsi sebelumnya. Respon dokter gue positif banget. Beliau bilang, gak masalah nenggak ramuan seperti itu, tetapi bukan jangka panjang. Takutnya kalau jangka panjang akan ada efek yang tidak baik apalagi tanpa pengawasan.

Terus kata dokter gue, daun sambiloto itu bagus banget untuk meredakan flu. Dia punya zat aktif yang berfungsi sebagai anti radang, anti bakteri bahkan antivirus. Kendatipun mengonsumsi rebusan daun sambiloto sebagai ramuan untuk menurunkan demam, tetap kuncinya adalah makan makanan yang bergizi dan jangan lupa istirahat.

***

Salam sehat
Rayamakyus
(Visited 25 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: