0

Sarampa Oh Sarampa

Gaes, gue mau curhat. Gue terkena sarampa. Sarampa oh sarampa, penyakit yang sudah semingguan ini mengganggu kualitas hidup gue.

Karena sarampa membuat kecenderungan kulit gue luka-luka dari hasil penggarukkan secara khusyuk dan khidmat. Gimana tidak terjadi penggarukan cooba kalau sarampa tuh gatalnyaaaaa luar biasa.

Sore setelah pulang kantor pada sebelas april duarebuduapuluhdua, gue rasa aneh nih. Ada ciri-ciri mau sakit. Mata terasa perih luar biasa. Tetapi gue masih bisa mempersiapkan menu untuk berpuka puasa. Pake mandi segala pula setelah memasak. Magrib menjelang, jika terkena angin yang bersumber dari kipas atau ac, gue menggigil. Wagelaseeeh, gue demam, sodara-sodara.

Biar demamnya turun, gue menenggak pil paracetamol featuring ibuprofen lalu menuju tempat tidur untuk beristirahat. Biarlah Ucup dan bapaknya berkolaborasi tanpa kehadiran gue. Berkolaborasi menghabiskan makanan maksudnya, hahaha.

Keesokan harinya, demam masih berjaya menggorogoti tubuh. Badan udah mulai bersekutu juga nih ikutan sakit. Persendian ampun-ampunan deh ngilunya. Untuk mengangkat telpon saja pake acara teriak-teriak segala? Kalau kedengaran tetangga kan menciptakan ambiguitas suara gitu loh. Mana waktunya ikut mendukung pula, jam 3 pagi.

Gue ikutan sahur bersama para lelaki-lelaki yang gue sayangi. Masih sambil teriak-teriak karena badan yang terasa ngilu. Beres sahur, gue kembali ke tempat tidur. Lalu meminta pertolongan Ucupyo untuk menempelkan koyo pada bagian tubuh yang sakit.

Sakit demam gue sampai memasuki hari ketiga. Btw gue masih masih ke kantor, cuy. Masih ngurus pegawai yang hak-haknya gue bayarkan. Sambil kerja gue nangis menahan ngilunya sendi. Cuman setengah hari ngantor, gue gak kuat deh. Butuh tempat tidur untuk meluruskan sendi-sendi yang yang ngilu.

Setelah berisitrahat beberapa hari, alhamdulillah demam gue turun, lalu terbitlah ruam merah pada kulit. Yang jika disentuh rasanya sepeti parut, hahaha. Udah feeling nih sarampa, karena waktu esempe dulu, gue pernah kena dengan gejala yang sama.

~ Hei Sarampa, welcome to my life ~

ilustrasi gambar : liputan6.com. Mitos penyakit sarampa.

Sarampa itu sejenis penyakit kulit yang mirip sama campak. Penyakit ini biasanya hilang setelah tiga hari menyerang tubuh manusia. Tetapi tergantung tubuh si penderitanya juga sih. Kalau imunnya kuat, biasanya sarampa tidak lama bersarang. Namun jika imun kita lemah, wadidaaaw ia akan hidup lama dan bisa membuat penderitanya kegatalan.

Hari pertama si sarampa muncul hanya berupa bercak biasa di kulit tangan gue. Gue yang paranoid sama sejenis bercak merah di kulit mendadak histeris. Alam bawah sadar gue awalan salah mengklaim nih. DBD. Fix sih ini dbd.

Karena gue trauma sama dbd, oh… adek bontot gue pernah hampir mati karena dbd. Gue gak mau cerita gimana shocknya keluarga begitu tiba di rumah sakit HB dan trombositnya rendah banget. Sejak saat itu, yang namanya habis demam dan muncul bercak merah, gue parno.

Untuk menjawab keparnoan, melajulah gue ke dokter langganan keluarga kami. Setibanya di tkp, eh eliau lagi ke luar kota. Aduuuuh. Seharusnya gue langsung ke lab aja, cek darah. Tetapi karena waktu menunjukkan pukul 06.00 sore, sehingga gue bantir stir menuju rumah orang tua.

Bertemu babeh yang kiprahnya sebagai dukun sakti mandra guna belum luntur. Minta dicek en ricek persoalan bercak merah. Apakah itu dbd atau bukan. Kalian pasti bakalan ketawa “ealaaah pecaya sama dukun ketimbang medis”. Psssst, babeh gue bukan sembarangan dukun, wkwkwk.

Setelah memegang tangan gue, babeh manggut-manggut. Kalau dokter untuk mengetahui penyakit seseorang menggunakan stetoskop kan? Kalau babeh gue pegang pergelangan tangan. Setelahnya seluruh dosa-dosa lu bakalan terlihat, hahaha.

“Sarampa ini” begitu kata beliau. Sesuai dengan dugaan gue. “Gih cari kelapa kuning dan kasumba turate”. Babeh menyebutkan dua obat lherbal langganan khusus penyakit sarampa atau cacar.

Mencari Kelapa Kuning

Tidak menunggu lama, kini otak gue sedang memaksa bagiannya yang bernama memori untuk bekerja keras. Menggali informasi, kira-kira rumaaaah siapa yang ada pohon kelapa kuningnya? Kalau pohon kelapa mah banyak ya? Tapi kelapa kuning? Langka!

Lagian kenapa gue susah-susah nyari orang yang punya pohon kelapa kuning ya? Sekarangkan lagi bulan puasa, buah kelapa tersebar dimana-mana. Sambil menahan rasa gatal, gue mengelilingi Kota Kendari untuk mencari kelapa kuning.

Sambil gugling juga biar otak rada pintaran dikit. Mencari apa sih manfaat kelapa kuning bagi penderita sarampa? Dan gue tidak menemukan hasil apapun, kecuali manfaat kelapa yang mampu menetralkan racun atau virus dalam tubuh kita.

Well okhay, anggaplah sarampa adalah bagian dari kerja virus juga. Jadi kenapa nenek moyang gue menurunkan titah ke tujuh turunannya, kalau sarampa atau cacar air, segeralah mencari air kelapa kuning? Karena manfaat air kelapa yang menjadi penawar racun atau virus sehingga bisa mengobati penyakit sarampa maupun cacar yang menyebabkan gatal kepada penderitanya.

Diantara puluhan penjual kepala yang tersebar, hanya 1 yang menjual kelapa kuning. Bukan maen. Langsung gue pesan 5 buah. Setelah mendapatkannya, gue kemudian mencari kasumba tutare. Kasumba turate banyak kok yang jual di pasar. Perbungkusnya dibanderol seharga 3.000 rupiah.

Kasumba turate. Ilustrasi gambar : bukalapak.com

Kasumba turate dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai bunga saffron yang memang sering digunakan sebagai obat herbal.

Kasumba turate ialah rempah-rempah yang berasal dari bunga Crovus sativus atau bunga pacar. Bunga pacar memiliki beberapa kandungan gizi dan senyawa yang baik untuk kesehatan seperti protein, lemak, serat, energi, kalsium, zat besi, fosfor, kalium, dan vitamin C.

Kasumba turate biasanya digunakan oleh masyarakat di daerah Sulawesi sebagai obat tradisional untuk mengobati penyakit sarampa serta kerap kali digunakan jika terjadi alergi. Selain itu, khasiatnya melancarkan haid, sakit waktu haid, sakit perut setelah melahirkan, kejang jantung, bengkak, anemia, dan neurodermatitis.

How The Result?

Air Kelapa kuning bakar + kasumba turate

Perpaduan kelapa kuning bakar dengan kasumba turate ampuh membasmi sarampa gue. Alhamdulillah. Reaksi hari pertama, merah-merah pada kulit gue memudar. Konsistensi gatalnya masih belum berubah.

Kalimat larangan “jangan digaruk nanti makin banyak sarampanya” tidak berpengaruh pada psikologis gue. Garuuuuuk foreva. hahaha. Pernah mencoba menggaruk menggunakan sisir, gak enak banget ih. Gatalnya kayak gak nampol.

Reaksi hari kedua, kemerahan sisa 85%. Dikit lagi menuju kemenangan. Rasa gatalnya sudah tidak seroar waktu gue baru berhenti demam.

Lalu reaksi hari ketiga 100% merahnya hilang. Gatalnya juga alhamdulillah berkurang banyak. Lalu gue bisa berikrar bahwa SARAMPA gue SEMBUH!

Untuk adik-adik yang lagi bingung mau nyusun sukripsi kesehatan, kakak Raya sarankan nih, cobalah untuk meneliti pengaruh air kelapa kuning dan kasumba turate dalam kejadian penyakit sarampa. Insyaallah berfaedah banget 😉

(Visited 14 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: