1

Sepotong Kisah di Pantai Toronipa

Toronipa, sehari sebelum memasuki tahun 2022. Sekelompok manusia pergi, tepatnya kabur dari kantor dalam rangka “healing” ke Toronipa. Melepas penat setelah bekerja selama 12 bulan tanpa adanya cuti. Ya karena memang kami pekerja jadi tugas utamanya adalah kerja kerja kerja *eeeeh?

Toronipa? Apa itu?

Sebagai warga lokal a.k.a anak Kendari, kalau mendengar kata Toronipa, ingatan saya langsung menyambar ke satu sosok temannya Luffy. Roronoa Zoro! Zoronipa, hahaha. Nekat mengubah nama Toronipa menjadi Zoronipa kemungkinan besar saya akan di deportasi ke Desa Shimotsuki oleh pimpinan warga Kendari. Sekalian pertukaran penduduk, ya kaliii di desa sana dibutuhkan perempuan tangguh ahli menghabiskan makanan. Lanjuuuuuuut…

Toronipa itu sendiri adalah sebuah pantai yang membentang panjang nan indah menghadap Laut Banda. Letaknya tepat di ujung timur salah satu teluk yang mengapit Kota Kendari dan Kabupaten Konawe. Karena lokasinya panjang dan indah, sehingga banyak yang menghabiskan malam di pantai ini untuk menikmati matahari terbit.

Kelihatan amat sangat romantis bukan? Yeps! Kalau pagi menjelang, cahaya matahari terbit dengan view bentangan pantai yang indah menambah suasana romantis.

***

Andai di kantor ada pemilihan pegawai terbaik, mungkin nama saya adalah pemenangnya. Pegawai terbaik lari dari kantor pada saat jam kerja! hahaha. Kegiatan yang sungguh menantang adrenalin sekaligus contoh yang salah! Tetapi untuk kali ini, pimpinan memaklumi dan memberi izin.

2x gagal mengelola rencana untuk hangout ke Toronipa bersama teman kantor. Gagal total karena minggu pertama ada tawuran antar suku di Kota Kendari. Terus minggu berikutnya kami mendapatkan kabar dari BMKG akan ada kenaikan air laut disertai angin kencang. Sehingga anak-anak (baca : teman kantor) memutuskan untuk menunda agenda kami.

Mengingat waktu yang singkat dan agenda kami yang super mulia, tercetuslah ide dadakan dilaksanakan pada hari dan jam kantor saja. Sembari hari-hari sebelumnya kami sendiri yang meramalkan cuaca. Tanpa mendatangi dukun dong pastinya.

Agenda super mulia?

Yeps! Bos kami yang baik hati dan tidak sombong memasuki masa purna bhakti per 1 Januari 2022. Beliau memasuki masa pensiun sebagai pegawai negeri sipil. Rasa sedih menyelimuti hati kami para anak buahnya. Dimana lagi cooba kami menemukan sosok bos seperti beliau? Tidak perhitungan, tidak pelit dan semua urusan lancar jaya kalau beliau yang mengelola. Namanya pak Ketut. Lengkapnya I Ketut Ramantika. Saya memanggilnya dengan panggilan sayang “oom Tut”.

Agenda mulianya ya ini, kami membuat acara untuk bos kami tersebut. Rencana yang sudah 3x gagal. Ada saja unsur-unsur yang menjadi alasan kegagalannya. Hingga akhirnya saya memasuki ruangan bos satunya lagi sambil menenteng kalender dan mencari hari baik. Pokoknya agenda kita wajib terlaksana!

1 hari lagi akan menuju pergantian tahun 2022 dan om Tut tidak berkantor lagi, masa iya beliau keluar dari kantor gak ada acara apa-apa? Hiiiiiii. Ora! Sehingga tercetuslah 31 Desember 2021. Toronipaaaaa! Bruuuum bruuuum.

31 Desember 2021

Kamis pagi, saya sudah bertengger di gazebo belakang kantor. Menunggu anak-anak yang datangnya molor banget. Kebiasaan deh. Ada beberapa teman kantor yang standby di rumah, karena rumahnya searah dengan pantai Toronipa. Sekaligus mereka yang menyediakan bahan pokok untuk dimakan di pantai. Bahan pokoknya doang. Masaknya di tkp.

Jam menunjukkan pukul 10.30 wita kami baru menuju ke pantai Toronipa. Telat banget sih ini sebenarnya. Perjalanan menuju ke pantai Toronipa memakan waktu 1 jam. Seharusnya tidak selama itu kalau jalanannya bagus. Saat tulisan ini posting, keadaan jalan menuju pantai sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat jelek! Rusak! Karena sedang ada perbaikan dan perluasan jalan.

Setelah kurang lebih 100 meter mencapai gerbang pantai, barulah jalanan bagus dan muluuuus. Mobil lari-lari 100km/jam juga aman, tidak ada goncangan ataupun jalanan berombak.

Sumber : https://publiksatu.co 2022, Jalan Kendari – Toronipa Rampung Dibangun

Sumber : https://publiksatu.co 2022, Jalan Kendari – Toronipa Rampung Dibangun

Setibanya di tkp, kami menyewa gazebo. Rumah-rumah untuk menampung barang bawaan kami. Setelah mendapatkan tempat yang cocok, barulah kami membongkar semua barang bawaan sembari mengunyah makanan apa saja yang ada. Kelaparan cuy!

Pada hari kerja, pantai Toronipa tidak banyak pengunjungnya. Berbeda dengan hari libur yang jumlah pengunjungnya padat meyarap. Pantai pun terlihat sepi. Justru kelihatan seperti pantai pribadi. Ada beberapa instansi yang sepertinya memiliki agenda seperti kami. Tidak jauh dari gazebo yang kami sewa.

Anak saya yang sudah tidak tahan, kakinya mulai kegatalan ketika melihat pantai. Deru ombak pantai yang halus seakan mengajak anak saya untuk “yuks main yuks”. Setelah menghabiskan bekalnya dan berjanji tidak main jauh-jauh, akhirnya ia mencicipi main di laut.

 

Main Masak-Masak, ayeeey!

Ikan segar mulai terlihat ketika box putih dibuka. Bukan hanya segar tetapi ndut dan panjang. Bayangan ikan bakar menari-nari dipelupuk mata. Tak sabar rasanya segera untuk menyantap. Selama ini saya berpikir, bahwa bapak-bapak di kantor itu taunya cuman cuci tangan dan makan! Melihat langsung dengan mata kepala, merubah asumsi saya selama ini kepada mereka. Saya pikir cupu, ternyata suhu. Wadidaaaaaw.

Sementara buw-buwibuwk lainnya, mengerjakan sayur dan kawan-kawannya. Ini kali pertama saya hangout bersama teman-teman kantor. Biasanya sama divisi saya sendiri. Teman seruangan! Oh iya, anak-anak disini kurang lengkap. Ada yang sakit, ada yang cuti lahiran, ada pula yang bertukang di rumahnya. Termasuk teman ruangan saya yang absen pada saat itu. Fiiiiuh, kendatipun demikian tidak menyurutkan semangat kami.

 

Kurang lebih 1 jam kami menyiapkan makanan. Bukan waktu yang singkat kawan! hahahaa. Ikan bakarnya karena besar dan gemoy, sehingga matengnya agak lama. Ya kan ndak lucu makan ikan setengah masak! Siapa yang bakar coba? Ya siapa lagi kalau bukan ahlinya! Ikan bakar yang ditangani oleh saya sukses tidak masak di dalamnya, sehingga tampuk pergantian diserahkan kepada ahlinya dan yeps, ikannya auto masak dalamnya, hahaha.

Ya gimana caranya bisa masak sempurna coba kalau petugas bakar ikan kerjaannya double. Selain menjaga kualitas ikan masak sempurna juga mengambil dokumentasi kegiatan ini. Apalah arti sebuah kegiatan terlaksana jika tak ada dokumentasi? Akreditasi saja tidak layak jika tak ada dokumentasinya, ya gak? *ngeleeeees*

Melihat ikan sudah matang sempurna, kami mengambil posisi di atas gazebo. Mengambil posisi untuk makan bersama, sekaligus dirangkaikan dengan pemotongan tumpeng dan acara perpisahan bersama oom Tut. Kesedihan mulai menjalari hati kami.

Kilatan-kilatan kebaikan hati oom Tut berseliweran di benak kami. Sari si manusia tabah anti nangis -yang menggunakan jilbab kuning besar yang fotonya sedang mengupas mangga- ikut larut dalam kesedihan. Saya dan Sari bisa dibilang staf oom tut yang usianya rada muda. Usia kami dan om tut sebanding antara kami dan bapak kami. Olehnya kami menganggap om Tut seperti bapak kami sendiri.

Setiap hari kami ditanya “sudah makan belum?”. Jawaban kami selalu “belum” walau kenyataannya adalah “sudaaaaaah” sambil berharap akan mendapatkan 2 lembar uang merah dan itu terjadi saudara-saudara! Olehnya pertanyaan paling memorable dari om Tut ya itu, sudah makan? Hiiks!

Sebutir air mata menggenangi peluk mata, cepat-cepat saya ambil tissue dan melapnya sambil berkata “pedeeeeees banget sambelnya. Ini level berapa sih?“. Yang namanya menangis, haram banget di depan anak-anak. Atau kamu akan dibully sepanjang hidupmu!

Uji Adrenalin

Setelah membersihkan gazebo dari sisa makan bersama, kami memutuskan mengakhiri kesedihan kami dengan bermain donat-donat. Rencananya sih maen banana boat, sayangnya dari kami semua tak ada yang membawa pakaian ganti.

Mau tau rasa main donat-donat? Seperti sedang ngeprank malaikat maut! Super deg-deg-an gilaaaaa! Apalagi kita maen donat-donatnya gak pake pemapung, cuy! Jurang perbedaan air kelihatan banget. Antara air yang warnanya hijau dan warnanya biru tua, kami melintasi 70% air yang warnanya biru tua. Artinya dibagian kedalaman dong ya? hahaha.

Semua doa dan dosa-dosa teringat. Abang-abang pemandunya malahan kelihatan santai saja kami yang dibelakang kegelisahan. Bayangan donat-donatnya akan terbalik memenuhi pikiran kami yang mulai overthingking. Bayangan talinya akan putus dan donat-donat terseret di arus dalam lebih mengerikan lagi. See?

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Raaaaaaaya (@rayamakyus)

Puas bermain donat-donat, kami mengakhiri acara perpisahan ini dengan mengambil foto bersama. Besok 1 Januari 2022 dan om Tut tidak bersama kami lagi. Tidak bertanya “sudah makan?” lagi. Aaaaah oom Tuuut…

Terima kasih kebaikan bapak selama ini. Pelajaran penting yang saya petik dari bapak adalah “kerja ikhlas”. Karena akhir dari sebuah ikhlasan adalah hidup yang indah dan manis.  Terima kasih 2021. Penuh perjuangan, lelah namun bahagia.

Video kebahagiaan kami saat itu terangkum dalam vlog tipis-tipis di bawah ini. Selamat menyaksikan 🙂

(Visited 36 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: