Skripsi yang Banyak Fansnya

Di sudut Kota Kendari pada tahun 2009, seorang mahasiswi mondar mandir kesana kemari mengunjungi setiap lorong depan kampus baru untuk meneliti kasus yang bernama gastritis. Bahasa kekiniannya maag. Sebagai langkah awal untuk menyusun karya ilmiah bernama skripsi yang akan dipersembahkan sebagai tongkat estafet guna mendapatkan gelar sarjana starata satu.

Semangatnya membara dan tidak padam. Meneliti seberapa besar sih mahasiswa pondokan (kos) kena yang namanya maag? Karena teman kuliahnya banyak yang sering mengeluh terkena maag, sehingga ia ingin mengetahui akar “kenapa sih mahasiswa pondokan sampe kena maag?”

Hambatannya banyak, karena dianggap kurang memadai dan bakalan banyak missing dalam pengambilan data kedepannya, sehingga calon anaknya (baca : skripsi) ditolak. D I T O L A K ! Lalu, apakah si mahasiswi tersebut akan menyerah?

Dan inilah gue, si mahasiswi yang sedang kalian baca tulisannya, hehehe.

Biasanya, kalau mau mengajukan judul skripsi sebelum naek proposal, kita tuh mesti punya 3 judul dan salah satunya bakalan terpilih. Faktanya, gue menghadap ke dosen pembimbing (dosbing) dengan mengantongi 1 judul skripsi. Waktu gue sebutkan judulnya, dahi dosbing gue berkerut.

STUDI KASUS KEJADIAN GASTRITIS PADA MAHASISWA PONDOKAN DI SEKITAR KAMPUS UHO

Tau dari mana kamu kalau mereka kena gastritis?” tanya dosbing gue saat itu. Yang namanya dosen kan yaaa, apalagi berhubungan dengan skripsi pastinya bakalan mirip cenayang deh. Mengetahui si mahasiswa ini bakalan kesusahan mengolah skripsinya atau kagak.

Sementara untuk mendompleng akreditasi fakultas menuju puncak B besar salah satu syaratnya adalah mahasiswa selesai masa studi tepat waktu.

“Saya sudah mengadakan studi pendahuluan, pak. Kepada teman-teman yang kena gastritis (maag), kemudian saya masukin tuh lorong kampus satuper satu, dan emang iya mereka rerata sakit maag, pak” Jawab saya sotoy, lugas dan tegas.

Agak lama sih sampe bisa mencapai mufakat, karena dosbing sangat meragukan kredibilitas gue, wkwkwk. Namun, karena gue anaknya kegigihan, sehingga judul skripsi gue yang tunggal itu di acc. Setelahnya berkutatlah gue membuat kerangka penelitian dan maju sidang proposal.

D I B A N T A I dooong, bestie. Para penguji tidak menghendaki jika gue meneliti kasus gastritis pada mahasiswa pondokan. Karena melihat ciri-ciri sakit maag itu agak-agak mirip sama sakit perut lainnya, khawatirnya skripsi gue bakalan ngambang tujuan akhirnya.

Bersyukurnya gue karena Allah menghadiahi dosen pembimbing yang beneran ahli gizi, sehingga skripsi gue yaaa kendatipun dibantai, proses pengolahannya tetap lanjut. Judulnya berubah menjadi….

FAKTOR RISIKO KEJADIAN GASTRITIS PADA MAHASISWA PONDOKAN/ASRAMA

Skripsi gue menggunakan metode case control. Ada kasus dan kontrolnya. Kalau emang kasusnya adalah penderita gastritis (maag), maka kontrolnya adalah penderita diare atau dbd atau malaria, yang memiliki gejala sama dengan gastritis.

Menggunakan metode case control, arah menuju gerbang sarjana menjadi terbuka lebar, hahaha. Maksudnya, gak ngambang lagi skripsi gue. Lebih terarah.

Salah dua tantangan gue saat itu adalah minimnya bahkan tidak ada judul skripsi yang senada dengan judul skripsi gue dikampus. Sehingga gue mesti mencari wangsit ke kampus tetangga. Kampus para calon bidan dan perawat sukses. Berbekal nota tugas dosbing gue, alhamdulillah banyak kemudahan dalam menerobos kampus tersebut. Karena literatur mengenai gastritis buwanyaaaaak.

Salah tiganya tantangan gue lainnya adalah ketika sukses mengantongi literatur mengenai gastritis, gue mesti mendatangi satu persatu pasien yang namanya tercatat dalam rekam medis pustu (puskesmas pembantu) dikampus. Nangis gak tuh?

Bukan hanya itu gaes, setelah melanjutkan ujian hasil, ketua tim penguji gue menginginkan agar gue jangan hanya mengambil data di pustu, melainkan di puskesmas yang menjadi wilayah jajahan dari kelurahan sampel-sampel gue.

Oh oke baik. Demi kelancaran skripsi, semua sampel gue datangi satu per satu dengan mengandalkan data dari pustu dan puskesmas. Sialnya,mereka tuh nulis alamatnya secara garis besar doang. Misal : Jalan Kucing no 1. Ya kaliiiiiik jalan kucing apa? Kucing anggora kah? Kucing persia kah? atau kucing garong?

Akhirnya gue mesti mendatangi seluruh rumah nomor satu di kelurahan kucing. Ketika menemukan si responden, rasanya pen gue ciuuuuuum. Karena 1 responden begitu berharga. Hadeeeeeuh!

Singkat kata singkat cerita nilai skripsi gue A besaaaaaaar. Horeeeeeeeey! Suatu kebangaan sih bisa meneliti kejadian gastritis pada mahasiswa pondokan yang mana pondokan di kampus UHO itu nusantara banget. Dari sabang sampai merauke.

Variabel yang gue teliti adalah pola makan, virus helicobacter pylori sama biaya hidup. Pola makan dan virus H. Pylori jelas banget sangat mempengaruhi seseorang bisa terserang maag. Jurnalnya buwanyak. Etapi kalau biaya hidup? Gue mestimengarang bebas dengan acuan UMR bahkan aturan-aturan menteri keuangan. Ngomongin biaya hidup jatuhnya sensitif, saaay! Sama kayak sensitifnya kulit gue.

Sehingga ngomongi biaya hidup sama mahasiswa, gue super hati-hati. Jaga mulut beut. Lalu…. Apakah ada hubungannya antara penderita maag dan biaya hidup? Yeps, ada!

Akhir kata karena skripsi yang gue perjuangin hingga titik darah penghabisan, sehingga rektor saat itu bisa memindahkan tali toga dari kiri ke kanan. Simbolis gue udah luluuuuuus kuliah.

SKRIPSI YANG BANYAK FANSNYA

Beberapa minggu yang lalu, gue ngupi-ngupi (baca : ngerumpi) sholehah sama teman yang kerjanya di kampus tetangga. Gak sengaja gue mampir ke perpustakaannya. Awalan mau numpang sholat eeeeeh malah jelalatan melihat tatanan buku rapi yang bikin mata gue jatuh cinta sama perpaduan warna susunan buku di rak.

Secara acak gue mengambil salah satu deretan skripsi bersampul merah. Gue baca judulnya dan gue syok berat. Skripsi yang perjuangannya berdarah-darah gue garap bisa tercopypaste dengan sempurna di kampus orang lain.

Yang berubah cuman nama penulis dan nama perguruan tinggi doang. Selebihnya ampuuuuun deh. Miris banget sih! Kamu tau gak sih gimana perjuangan gue hingga skripsi itu lahir dengan selamat? Gimana kuatnya tekad gue mengamini semua apa yang tim penguji inginkan supaya skripsi gue perfecto?

Pada rak lain, ada juga yang 80% sama dengan skripsi gue. Dia hanya mengurangi satu variabel, yaitu biaya hidup. Wooooooi, kamu datang ke perpustakan kampus gue demi menjiblak karya gue? wkwkwk.

Ampun deh, pen nangis rasanya. Tapi, mungkin itu salah satu cara dia biar bisa lolos dari ujian skripsi. Karena katanya punya katanya, proses penyelesaian skripsi sama kayak orang umroh atau haji, cobaannya saat itu juga kalau berbuat yang tidak baik. Mungkin dia tidak sanggup melalui badai yang akan menegarkan mentalnya seperti karang sehingga maen copy paste karya orang.

It’s oke wae. Aku rapopo. Positif ting-tingnya adalah mereka ngefans sama skripsi yang mengangkat masalah gastritis pada mahasiswa pondokan :D. Saking  ngefansnya dijiblaaaaaak isi dalamnya.

Bukan cuman di kampus orang laen, skripsi gue banyak fannya di kampus gue sendiri. Kampus tempat gue menimba ilmu maksudnya. Karena sengaja gue mengunjungi ruang perpustakaan yang hanya bersebelahan dengan ruangan gue. Penasaran ajah, apakah mahasiswa rite now hobi copy paste karya orang lain?

Yeps, waktu gue cek list skripsi pada kompie perpustakaan, gue nemu beberapa skripsi yang judulnya menghampiri. Cerdasnya anak-anak ini, mereka menambahkan variabel lain untuk diteliti. Sehingga penelitian mengenai gastritis berkembang dengan adanya variabel lain.

Good job nakanak.

(Visited 11 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: