0

Suka Duka Menjadi PPABP

.Suka duka menjadi ppabp.

Dalam sebuah perkantoran a.k.a instansi negeri, ada tupoksi yang namanya ppabp. Berdiri tegak dalam divisi keuangan yang salah satu fungsinya adalah membayarkan hak-hak pegawai instansi tersebut. Kalau ngomongin hak pastinya tidak terlepas dari kata fulush. Uang.

Salah dua tupoksi ppabp adalah memproses pembuatan Daftar Gaji, Uang Duka Wafat/Uang Duka Tewas, Terusan Penghasilan Gaji (Gaji Terusan), Uang Muka Gaji (Persekot Gaji), Uang Makan, Honorarium, pembuatan Daftar Permintaan Pembayaran Belanja Pegawai dan lain sebagainya.

Ppabp tuh kelihatannya jenis pekerjaan yang enteng sambil petantang petenteng menenteng tas leptop. Looks like bos mafia kalau sedang menganalisis harta kekayaan pegawai yang bersumber dari negara. Apalagi jika si ppabp memiliki wajah dengan rahang kokoh nan menyeramkan. Paket komplit, hahaha.

Secara garis besar Petugas Pengelolaan Administrasi Belanja Pegawai (PPABP) adalah pembantu Kuasa Pengguna Anggaran -KPA- yang bertugas dan bertanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan administrasi belanja pegawai pada satker yang bersangkutan, yaitu penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban.

PPABP bukan sekadar Pembuat Daftar Gaji (PDG) seperti ketika administrasi belanja pegawai masih dikelola oleh KPPN. Oleh karena itu, PPABP dapat dibantu oleh beberapa pegawai sesuai dengan volume kerja yang ditanganinya (sumber : wikiapbn).

Gue mengemban amanah sebagai ppabp semenjak tahun 2018. Sempat shock berat saat nama gue terpampang dalam sk pengangkatan ppabp. Kok gue siiiiih? Yang namanya ppabp adalah tupoksi yang paling gue takuti. Karena yang gue lihat dari senior sebelumnya yang menjabat sebagai ppabp, kerjaannya tuh tawuran sama pegawai.

Apalagi kalau si pegawai keukeuh mempertahankan keinginannya walau secara hukum itu salah. Sesak napas gak tuh? Waktu nama gue ada dalam sk pengangkatan, sahabat sejati gue selama dua bulan pertama adalah ultilox dan ranitidine. Maag gue kambuh. Setreees!

Setelah menjalaninya selama satu tahun pertama, stres gue mulai terkontrol dan uhuuuui, gue mulai menguasai medan. Yaaaa walaupun hanya untuk mencetak daftar gaji, gue menghabiskan 2 rim kertas karena salah melulu, wkwkwk.

Maka pada kesempatan kali ini, gue mau mempersembahkan tulisan mengenai profesi gue yang ajaib. Waktu SMA, gue tuh anak IPA yang nyaris setiap harinya berkutat dengan mafia -matematika fisika kimia- plus biologi.

Terus tamat esema mencoba selingkuh dari IPA dengan mengikuti tes STAN. Dua kali dan keduanya gue dinyatakan TIDAK LULUS. Karena gue maunya langsung sekolah kedinasan saja ketimbang kuliah, makanya nekat mengikuti tes stan.

Lalu kuliah, mengambil jurusan epidemiologi pada fakultas kesehatan masyarakat. Setelah lulus kuliah, gue kembali melanjutkan studi karena impian gue mau menjadi epidemiolog. Sayangnya, takdir berkata lain. Tulisan mengenai si takdir yang berkata lain bisa kalian intip in here ya.

Lalu memasuki dunia kerja, gue banting stir menjadi akunting jadi-jadian. Bercinta dengan debit, kredit dan saldo yang mana helllllooooow, gak ada dalam kamus pendidikan gue dan pada akhirnya gegara menjadi akunting jadi-jadian mengantarkan profesi baru gue sebagai ppabp. Nangis gak tuh?

Suka Duka Menjadi PPABP

  • Khatam caci maki atau sindiran

Ini nih yang awalan membuat gue mengangkat bendera putih ke cctv pertanda nyali menciut sebagai ppabp. Padahal gue belum masuk ke medan tempur. Gak sanggup euy. Pengalaman senior gue sebagai ppabp sebelumnya tuh khatam banget sama cacian dan makian. Atau mendapatkan sindiran.

Kenapa dicaci maki? Karena pembayaran honorariumnya atau tunjangannya telat, misalnya. Pegawai tuh mana mau tau proses hingga uang mereka masuk ke dalam rekening gaji. Mereka cuman taunya hasil akhir. Sementara yang menjalani proses kan kitorang. Kaum ppabp.

Well, kalau gaji tuh biasanya tanggal 1 selalu ontime masuk ke dalam rekening. Sehabis sholat subuh, bunyi sms bengking berdenting. Pertanda ada harapan hidup yang baru selama sebulan. Namun yang lainnya kan, tidak selalu semulus pengurusan gaji.

Ya, gak semua ppbp bakalan khatam cacimaki. Tentu ppabp yang paling disayang Allah yang mendapatkan cobaan berupa caci maki dari pegawai, hehehe. Gue pribadi menjadi ppabp alhamdulillah belum dapat cacian dan makian. Namun sindirian, hhhhm jangan ditanya deh, wkwkwk.

Tapi masa bodoh siiih. Ya kalaupun elu nyindir, elu dapat apa? Sementara yang berjuang ke medan tempur supaya tunjangan atau kekurangan gaji atau apapun itu yang berhubungan sama uang elu cair, kan gue! Yang naik turun tangga ke rektorat, kan gue. Yang selalu gagal menjalani program hamil karena kecapean, kan gue! Jadi elu mau nyindir segimananya pun, MASA BODOH! wkwkwk.

Baca : Gagal hamil dooong

  • Banyak teman = banyak koneksi

Pada satker -satuan kerja- tempat gue bekerja, terdapat beberapa anak satker yang tentu memiliki ppabp pada divisi keuangan. Anak satker yang berjumlah 16, tentu terdapat 16 ppabp. Seru banget kalau sudah ngumpul.

Tentunya menemukan teman yang senasib seperjuangan adalah “suka” ppabp. Biasanya kami berkumpul di rektorat. Apalagi jika berkas yang kami ajukan menemukan masalah, maka berkumpulah kami.

PPABP Satker Universitas Halu Oleo

Banyak kisah yang bisa kami jadikan pelajaran terkait menghadapi pegawai yang berkasus. Berkasnya yang berkasus. Bukan pribadinya, hehehe. Sehingga apabila kejadian menimpa kami, ya teman kami yang mengalami kasus serupa akan mengajari sehingga berkasnya bisa lolos ke kppn.

Banyak teman sama dengan banyak koneksi offcourse. Apalagi kalau ada yang habis kejatuhan durian runtuh. Uuuuuuh, bagi-bagi rejekinya merata, wkwkwk.

Itu baru lingkup sesama anak satker. Belum lagi koneksi di luar kantor. Misalnya kalau pegawai mau mengambil kredit, ya tanda tangan kita kepake doong, hihihi. Sehingga biasanya, kami memiliki teman dari lingkup unit kerja lainnya.

Seperti kisah gue sewaktu mengejar tigabelas desember 2021, keuntungan memiliki koneksi dari satker lain, sehingga kerjaan gue yang deadline menjadi mudah.

Baca dong : Mengejar Tigabelas Desember 2021 

  • Jutawan bahkan milyaderan

Eh, ini pemikiran gue doang ya. Karena ppabp kerap bersanding dengan bendahara dan kelihatan bergengsi karena ritme kerjanya mirip gurita yang banyak tangan dan dominan pekerjaan rebes, sehingga anggapan mereka ppabp memiliki buwanyaaaaak harta karena mengelola administrasi belanja pegawai, hahha.

Penglihatan dari luar sungguh menipu, pemirsa. Yang namanya ASN, penghasilannya udah ketahuan kok. Tinggal lihat golongannya saja. Persoalan tukin atau remunerasi, ya tinggal lihat gradenya saja. Posisi manakah ia berada?

Gue paling sebel kalau nemu orang yang beranggapan “ih, kamu mah enak. ppabp. Duitnya banyak. Gaji pasti sudah ada potongan yang masuk ke rekening kamu kan?”. Yaaa walaupun ngomongnya dalam mode bercanda, tetap ajah bikin sakit hati.

Gue pen banget nonjok orang kalau nemu komentator seperti itu. Kalau memang setiap yang bergaji, duitnya kepotong dan masuk rekening, udaaaaah lama kali gue beli mobil pajero lalu pelisiran keliling dunia, hahaha.

Apalagi kalau tunjangan lainnya. Mereka hanya menghitung jumlah kotornya saja, lalu lupa ingatan kalau yang namanya penghasilan pegawai ada pajak -PPH- 21-nya. Itu masuk ke kas negara, say. Bukan ke kas gue. Hitung dong ah. Biar tidak suujon.

  • Belajar Mengenai Anggaran Belanja Pegawai

salah satu “suka” sebagai ppabp adalah mendapatkan ilmu mengenai anggaran belanja pegawai. Alur yang rumit sehingga penghasilan masuk ke rekening pegawai itu tidak mudah. Orang lain mungkin akan mencaci atau menyindir karena mereka tidak mengetahui alur pekerjaan ppabp.

Olehnya, dengan menjadi bagian dari keluarga besar ppabp, gue belajar keras. Utamanya memanage esmosyen agar tidak tersulut ketika menghadapi sindiran. Dan membuktikan bahwa sindiran mereka tidak benar dengan adanya data juga aturan yang berlaku.

Ppabp wajib banget mengetahui aturan menteri keuangan atau peraturan daerah terkait dengan pnghasilan pegawai. Itu yang menjadi dasar kuat. Sepengalaman gue sebagai ppabp, ketika kita memegang aturan, insyaallah kita kuat.

Ada yang ngomongnya seenak jidat masalah penghasilannya, perlihatkan aturan yang berlaku.

(Visited 9 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: