0

Tips Mengelola Keuangan Keluarga Ala Raya Makyus

Sejujurnya mengelola keuangan keluarga tidak segampang membolak-balikkan telapak tangan seperti sedang bermain hompimpa. Banyak cobaannya cyin! Apalagi yang kata orang ‘jaman now’ tidak bisa dipungkiri bahwa gaya hidup berhungan erat dengan pengeluaran yang kerap menyebabkan dompet keluarga menjerit histeris. Ngaku deeeeh! Ngakuuu!

tips mengelola keuangan keluarga

Lalu apakah besarnya pendapatan bulanan turut mempengaruhi krisis perekonomian keluarga? 

Jawabannya tidak. Besar kecilnya pendapatan ak.a gaji berpengaruh terhadap pengelolaan yang tepat, sehingga bisa terhindar dari keadaan defisit. Terkadang gue tuh mikir, kalau gaji kecil pasti akan kesulitan menyimpan dana untuk beberapa keperluan penting, seperti biaya sekolah anak, membeli rumah, investasi tanah, dan banyak lagi. Ternyata gue salah besar! Mau gaji besar kek, kecil kek, kalau pengelolaan baik, pastinya bisa disisihkan untuk kebutuhan lainnya.

Hari kamis kemarin, teman gue sempat curhat mengenai keadaan keuangannya di masa menjadi pegawai hononer dengan sekarang yang sudah terangkat sebagai Aparatu Sipil Negara.

Zaman masih honorer dulu, hidupnya berkecupan. Tidak pernah defisit di akhir bulan ataupun minus karena ngutang ke orang lain. Begitupun dengan kasus gue yang saat itu pak suami masih menjadi tenaga honorer di kampus tempat kami bekerja.

Teman gue semasa honorer gajinya 125.000,- per bulan. Sementara pak suami kala itu 750.000,- bulan. Dengan angka begitu kami masih bisa menabung, kami masih bisa beli emas sebagai investasi, masih bisa makan enak dan banyak lagi kebahagiaan yang tak perlu gue tulis disini.

Lalu kami mengambil kesimpulan :

lalu apakah yang salah-Tahun 2010 belum ada pusat berbelanjaan yang menawarkan surga dunia yang disebut mall. Dulu itu hitsnya pasar. Mall Mandonga sih ada, hanya harga yang mereka tawarkan selangit. Membuat gue malas banget ke sana. Lagian namanya doang yang mall, tidak seperti mall yang ada dalam sinetron yang biasa gue tongkrongin sehabis shalat isya.

lalu apakah yang salah- (1)

Pergeseran nilai budaya ikut andil terjadinya krisis moneter pada keuangan keluarga. Gaya hidup dan perilaku hidup konsumtif penyebabnya.

Baca : Stop Memelihara Budaya Konsumtif

Gue tidak menyalahkan keadaan, karena suka tidak suka, secara otomatis kita berada pada zaman milenia dan dilania *halaaah* dimana untuk menjadi seseorang yang konsumstif sangatlah mudah. Disadari atau tidak, budaya konsumtif memberikan kenikmatan dan kepuasan secara fisik dan pesikologis. Karena asumsi publik saat ini, jika orang tidak mengikuti trend dianggap katrok.

lalu apakah yang salah- (2)

Sebut saja belanja online. Kemudahan yang ditawarkan jelas membuat siapa saja akan tergiur. Tak terkecuali gue mamak-mamak STEL (Selera Tinggi Ekonomi Lemah), wkwkwkwk.

 

Dokumen pribadi, 2017

Buka instagram, menelusuri kotak pencarian, ketik jam tangan cewek misalnya, ribuan dagangan online shop membuka tangan lebar-lebar menanti anda menggerayangi tokonya :D. Bukankah para ulama terdahulu sudah mewanti-wanti kita agar berhati-hati terhadap era globalisasi?

Well, back to topic.

Sejujurnya, cerita teman gue di atas tidak jauh berbeda dengan apa yang gue rasakan. Ketika pak suami terangkat menjadi ASN, gue merasa alur perekonomian tidak seperti dulu lagi. Terkadang, gue merindukan masa-masa dimana pak suami cari nafkah hingga ke pelosok, nyodorin uang merah 1 lembar saja gue udah sujud syukur.

Kini, pekerjaannya lebih dimudahkan. Kami tidak perlu Long Distance Relationship segala untuk mencari nafkah. Namun masih terasa kurang. Pasti ada yang salah!

Jika mengikuti hawa nafsu yang merujuk kepada sesuatu yang negatif, jelaslah, berapapun gaji yang dimiliki tidak akan cukup selama sebulan. Karena gue memiliki pengalaman pahit tentang defisit di pertengahan bulan. Pahitnya seperti pencampuran daun melinjo dan daun pepaya dijadiin cemilan sore.

Berkaca dari pengalaman pahit tersebut, gue punya tips mengelola keuangan yang terbukti tokcer! Sama tokcernya ketika kita lagi susah BAB, kemudian ngemil ubi jalar, pasti langusng ke twilait (baca : toilet) untuk melakukan pembuangan, hahaha *uuups sorry to say*.

SEDEKAH

lalu apakah yang salah- (3)

Disadari atau tidak dengan menyisihkan gaji untuk beramal, kita tidak akan merasa kurang uang. Sebaliknya kita akan senantiasa merasa cukup. Bersedekah ataupun beramal membuka mata hati kita agar senantiasa bersyukur atas rejekiNya.

Tidak ada ruginya kita senantiasa mengucap syukur, dengan demikian maka segala sesuatu akan hidup kita Allah cukupkan. Gak ada harta? Allah kasih kita rasa cukup. Sakit? Allah kasih kita rasa cukup. Sendiri? Allah kasih kita rasa cukup.

Yang membuat kita sengsara itu bukanlah kita kekurangan harta, bukan kita sendiri. Yang membuat kita sengsara itu hati kita tidak cukup merasa bahagia. Terlalu kecil ruangnya untuk bahagia, hingga kita selalu merasa hampa.

Menggunakan Sistem Amplop

lalu apakah yang salah- (4)

Tips dari mertua gue nih. Jadi, ketika menerima gaji, segerlah untuk di amplopkan. Amplop untuk kebutuhan pokok, pengeluaran tak terduga, opsional dan tentunya untuk tabungan masa depan. Biasanya dengan mengamplopkan biaya bulanan, lebih disiplin dalam penggunaan uang.

Jika tidak segera diamplopkan, biasanya duit yang terlihat indah dimata kita, cepat menguap. Menguap ke pembelanjaan yang masuk kategori ‘ingin’ dan bukannya kategori ‘butuh’.

Ingat, setan dimana-mana. Apalagi menyangkut uang, setannya lebih kuat ketimbang malaikatnya! xixixixi :D.

Membuat Rancangan Anggaran Biaya Bulanan

lalu apakah yang salah- (10)

Bukan cuma proposal penelitian ataupun proposal kegiatan lain yang ada RABnya. Pengelolaan keuangan keluarga juga kudu diterapin yang namanya RAB. Faedahnya untuk mengontrol pengeluaran yang urgent.

Dalam RAB jelaslah arah pengeluaran dalam sebulan. Biasanya akan ada sisa dana di penghujung bulan sekitaran 25% lah ya. Nah, sisa dana tersebut yang biasanya gue gunain untuk nongkrong di cafe kekinian bareng keluarga. Lalu cekreeeek. Upload deh di media sosial, wkwkwk.

Pantang Berutang

lalu apakah yang salah- (6)

Kayak suci banget gue ya?. Gue termasuk salah satu pegawai yang dicari mbak yang dagangin baju batik di kantor. Karena kenapa? Gue doyan nyicil sama si mbak! wkwkwk. Eits, untuk membayar tunai sepertinya akan menggoyahkan dompet gue. Jadi, kalau bisa di cicil, yaaaa, nyicil ajah! hhahaha.

Kalau kata pak suami dengan tabiat gue yang doyan nyicil ke mbak, gue gak bakalan bisa hidup di Jepang. Karena orang Jepang, berutang adalah hal yang memalukan. Mereka lebih baik menunda selera beli terhadap sesuatu hal, misalnya baju baru ketimbang berutang. Sebab mereka tau bahwa utang akan menyulitkan mereka.

Hati-hati dengan utang. Rumusnya seperti ini :

Utang = bersantai-santai dahulu, baru merasakan susah di belakang.

Nabung = Bersusah-susah dahulu, senang kemudian.

Dan mengapa hingga kini gue masih tinggal di rumah mertua suami? karena gue gak mau ngutang, hehehe.

Membuka Rekening Tanpa ATM

lalu apakah yang salah- (12)

Biasanya, jika tabungan ada ATMnya dan gue tau si tabungan ada duitnya, rasanya kegatelan gitu yaa jika ada yang ingin dibeli dan tidak terwujud! Rasanya gemeeez banget! Namun jika tabungan tidak ada akses ATM, yakin deeeh, tabungan lo aman damai sentosa di tempatnya.

Untuk tabungan tanpa ATM gue taroh untuk tabungan masa depan. Karena yang jelas, cita-cita finansial gue adalah membangun rumah dan menyekolahkan anak gue ke sekolah angkatan militer.

Gue sadari, semakin berkembang zaman, semakin mengerikan bangsa ini. Gue ingin menempatkan anak-anak gue ke gerbang dimana mereka adalah cikal bakal pasukan yang akan melawan dajjal *tsaaaah*.

Menggunakan Celengan

lalu apakah yang salah- (11)

Jangan pernah mengabaikan uang receh *itu elo kali Rayaa!*. Jangan pernah! Karena suatu saat, lo bakalan tau apa manfaat uang receh dibalik kekecilannya *ngeeek*.

20170220_133816-02

Penolong gue di tanggal tua adalah uang receh! hahaha. Uang yang sering gue acuhkan, ckckck. Gue pernah baca artikel, katanya kalau menabung, mending di celengan yang transparan, agar jauh dari pengaruh magis babi ngepet. Kalau yang bermotif kartun pan menyerupai makhluk tuh, jadi gampang disedot bahkan dari radius 3 km. Duitnya loh yang disedot.

Dengan menggunakan celengan, kita bisa menyisihkan uang. Misalnya, tanggal pertama bulan Februari yang disisihkan 1.000,-, tanggal 2 2.000,- dan begitu seterusnya. Kebiasaan menyisihkan uang, jelas akan menggedutkan tabungan kita. Gunanya apa cyin? Untuk memudahkan beli somay 1 tusuk di depan rumah dana darurat.

Membeli Barang Bekas

lalu apakah yang salah- (9)

Jangan pernah malu untuk membeli barang bekas. Yang penting bukan bekas ‘pakaian dalam’. Sebetulnya, gue tuh doyan kaliiiik membeli barang bekas. Kalau di Kendari namanya RB. Rombengan.

Contohnya, sepatu Onitsuka Tiger yang asli harganya jutaan cyin! PNS biasa kayak gue mana sanggup beli? Duit sejuta lumayan dipake beli semen + pasir untuk mbangun rumah.

onitsuka

Demi apaaaaa coba gue nemu onitsuka tiger di pasar RB dengan harga 100 rebu? Body mulus tanpa cacat. Original pula!

20180215_152132

Di kantor, gue dijuluki ‘KAUM SOSIALITA’ karena barang yang gue kenakan branded. Padahal mereka tidak mengetahui, bahwa gue penggemar barang bekas, hahaha. Gue juga malas ngaku! Cari ajah seantero Matahari Depart Store atau toko elit lainnya, kalau nemu barang branded dengan harga miring? hahaha.

Tidak Malu Membawa Bekal

lalu apakah yang salah- (13)

Makan berdua dengan pasangan di siang hari sambil ngobrolin hal-hal yang bikin ketawa memang kelihatan romantis yang manis. Namun jika setiap hari makan berdua, dengan taksiran perporsi 35.000,- misalnya. Jika berdua jelas akan habis 100.000,- dalam sehari. Dalam sebulan bisa masuk 6 digit tuh hanya untuk biaya makan. Mubasir cyiiin.

Mendingan bawa bekal ajah. Di luaran jika harga mie ayam 25.000,- per porsi misalnya, tapi ‘lo bisa bikin sendiri, lumayan menghemat loh cyin. Makanan yang ‘lo bikin kan gak masuk biaya PPN pula.

Bisa makan siang romantis bareng pasangan di bawah lindungan pohon pisang. Uch cucco meong! Perut kenyang + dompet bahagia = disayang suami!

Yang paling penting…

lalu apakah yang salah- (5)

Mustahi banget lah sebagai manusia biasa gue bebas virus gaya hidup mamak-mamak yang dituduh kekinian. Kenapa gue memilih RB sebagai tempat pencarian gaya hidup gue? Karena kalo belinya di Departemen Store, kembarannya banyak! Harganya selangit pula! Kendatipun banyak diskonan, ya hitungannya sama! Kalau di RB kan limited edition barangnya dan harganya miriiiiing banget cyiiiin *tebarracun*.

Gue pernah mendengar ceramah, bahwa di pusat perbelanjaan, setan menancapkan benderanya di setiap sudut toko. Agar manusia terjerat dengan gaya hidup glamour yang mengedepankan keinginan dari pada kebutuhan.

****

Demikian-lah tips mengelola keuangan ala Raya Makyus. Sejatinya, gue pun tetap belajar untuk mengontrol keuangan yang gue pegang sebagai Mentri Keuangan di rumah. Tulisan ini pun sebagai self reminder. Bahwa jika kepengen kaya raya, bukan uangnya yang banyak. Tapi bagaimana cara kita mengelola uang yang kita miliki.

Tulisan di atas sebagai balasan dari postingan kak Ira sebagar trigger dalam komunitas Be Molulo. Kumpulan blogger Sulawesi Tenggara. Tulisan kak Ira bisa diintip disini ya cyin.

Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat.

With Love

-Raya Makyus-

 

(Visited 7 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: