0

Trip Dadakan ke Bombana

Pilih perjalanan kemana nih? Raha, Bau-bau atau konawe?” Kata bu bendahara senin itu. Iya, senin tigabelas Desember 2021, sebelum kejadian mengerikan yang menggores luka hati.

Gak ada opsi lain apa? Aduuuuh, saya belum berani kabur jauh-jauh kalau bulan desember belum berakhir

Ada sih. Bombana

Ya suuuuud, kita Bombana ajah! PP -pulang pergi- gimana?” saya mulai mengompori. Maklum, anak paling muda di divisi keuangan. Suaranya sering didengar. Apalagi menyangkut “kabur” dari kantor.

Sabaaaar Ray, saya menghadap bos besar dulu. Ya kaliiii kita sudah siap-siap tapi gak di acc

Bu Bendahara menuju ruangan bos besar dengan langkah seribu dan saya mulai berdoa. Melangitkan doa dalam diam, sambil pura-pura mengetik, biar dikira lagi kerja keras. 5 menit berlalu. 10 menit berlalu. 15 menit berlalu. Hadeuh lama amat negosiasinya! Mana saya udah dijemput teman-teman bendahara gaji mau tawuran ke rektorat.

20 menit kemudian bu bendahara masuk ke ruangan, disusul staf ahli bos besar. Senyumnya merekah. BOMBANA!

****

Pagi jam 6 pada hari rabu yang cerah, saya menuju rumah bu bendahara. Bersama teman ruangan dong tentunya! Minjem mobilnya pak bos! Bisa sih kita rental mobil, secara perjalanan ini judulnya sosialisasi ke sekolah menengah atas mengenai betapa kerennya kuliah di Kesehatan Masyarakat UHO. Membawa tugas super mulia betapa nistanya kalau rental mobil ajah gak bisa!

Cuman gimana yaa? Ngerti kan isi otaknya perempuan apalagi sekelas “ibu-ibu” kalau berurusan masalah uang. Pasti di pas-pas-in banget. Jadilah kita minjem mobil pak bos. Gratis! Bensin ditanggung bu bendahara, hahahaha. Pak bos kami tentunya ikut juga dalam trip dadakan ini.

Sebutir pil anti mabok sukses masuk ke dalam kerongkongan ketika mobil hendak melaju. Terakhir kali saya ke Bombana tahun 2007, waktu itu saya masih mahasiswa. Fisik masih kuat, jiwa menantangnya masih tinggi. Mabok tidak ada dalam kamus!

Tapi sekarang berbeda, gaes! Fisik sudah tidak se-setrong jaman gadis dulu. Apalagi sudah 2x turun mesin pula, jadi performa untuk perjalanan yang jauh itu sudah beda rasanya. Walau euforianya masih sama. Setidaknya dengan obat anti mabok, saya bisa menikmati perjalanan panjang tanpa ada keluhan puyeng sakit kepala karena jalanannya yang berkelok-kelok.

Waktu menunjukkan pukul 09.00 wita ketika saya terbangun dari tidur. Efek obat maboknya tokceeer juga! Baru saja mobil bergerak 1 km, saya sudah teler, hahahaha. Saya langsung mengucap syukur ketika melihat bentangan sawah terlihat dari sisi-sisi jalan. What a wonderfull god’s creation! See

Impian saya banget untuk melihat gunung, sawah dan lautan. Semua ada dalam perjalanan menuju Bombana. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 11.00 wita dan yeps, tau-tau ajah kita udah nyampe di Bombana. Dasar wanita jahat! Tega-teganya pulas tidur di perjalanan sementara pak Jamil dan bos kami saling bergantian mengemudikan kendaraan, wkwkwkwk.

***

Bombana itu salah satu Kabupaten yang ada di Sulawesi Tenggara. Ibu kotanya Rumbia. Sepenglihatan saya, Bombana salah satu kabupaten yang terus berkembang. Setiap tahunnya ada saja berita baik yang saya dengar atau saya lihat dari berita online terkait perkembangan Bombana. Tahun 2007 waktu pertama kali menginjakkan kaki ke sana, kebetulan ikut penelitian teman meneliti kualitas air di sekitaran tambang emas Tahi ite bombana.

Sejak saat itu nama Bombana terus mengalami perkembangan dalam pembangunan daerahnya. Salute euy!

Jarak tempuh dari Kota Kendari ke Bombana itu kurang lebih 4 jam. Kalau selama perjalanan banyak singgah-singgahnya, bisa lebih dari itu.

***

Setibanya di Bombana kami menghubungi teman-teman yang terlebih dahulu nyampe kemarin siang. Iya! Seharusnya keberangkatan kami bersama rombongan dosen-dosen dari fakultas kami. Namun, karena kemaren (selasa) saya ada kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, maka kami khusus divisi keuangan baru bisa berangkat pada hari rabu. Setelah bertemu, ya foto-foto dululaaah sebagai bukti otentik ke pimpinan bahwa kami telah melaksanakan tugas, hahahaha.

Setelah memberitahukan bahwa kami udah selamat sampe Bombana, kami nyari makan dooong! Ajegile berangkat dari subuh ya iyalaaah perut ngamuk-ngamuk minta diisi. Sialnya, semua rumah makan yang kami datangi close the door doong! Haiiiiiiish…

Karena hari rabu saat itu bertepatan dengan acara HUT Bombana. Sehingga beberapa rumah makan recomended disana dibooking untuk acara. Padahal sebelumnya kami nemu warung coto. Terus saya nyeletuk doong “aduaduadu.. jauh-jauh ke Bombana cuma makan Coto? di Kendari juga buwanyaaaaak!” Sehingga muter-muter-lah kita nyari warung makan dan hasilnya nihil! Karma is real…

Lalu bertemulah kami dengan rumah makan pangkep, tepat di depan kantor Bupati Bombana. Menu sajiannya macam-macam dan kami memilih ikan bakar plus nasi sebakul. Kelaparan sistah!

***

Sejujurnya, keikutsertaan saya di Bombana selain karena tugas mulia yang sayangnya gak terlaksana karena keberangkatan kami yang tertunda, juga saya kepengen self healing akibat habis tawuran hari senin kemaren dulunya. Akibat kejadian tersebut maag saya kumat. Sehingga dengan ikut kabur ke Bombana bisa mempercepat penyembuhan luka hati saya. Tsaaaaaah….. Gaya beneeeeeeer!

Sehabis makan siang, kami mencari mesjid untuk menunaikan solat Zuhur, sekaligus untuk meluruskan pinggang. Gak maen-maen loh itu perjalanan 4 jam duduk manis di dalam mobil, enchoook! Setelahnya kami mengunjungi pasar tradisional.

Btw, tau gak sih kalau Bombana itu terkenal sama seafoodnya yang seger-seger? Benar-benar original dari laut!

Sehingga wajib hukumnya ke Bombana itu singgah ke pasar untuk membeli seafood! Siang itu penjual ikan di pasar sepi. Ternyata oh ternyata pasarnya itu rame pagi dan sore. Ya sud-lah, sembari menunggu sore, kami jalan-jalan ke taman kota.

 

 

Puas berkeliling di tengah kota sambil foto-foto dan ngevlog, kami mengunjungi salah satu pagai yang bermarkas tepat di bibir pelabuhan. Kebetulan ikan dan udang jualannya masih ready stock, sehingga tak perlu menunggu sore dan menunggu kapal ikan bersandar, kami mendekati pagai tersebut.

Udang besar begini dibanderol seharga 80k/kg ya mana kami tidak kalap membeli coba? Sementara harga di pasar Kendari yaaa sekitaran 150an. Sedangkan lobster yang dipegang sama bu bend dibanderol seharga 100k/kg. Di Kendari lebih dari 200k/kg harganya. Ya jiwa ibu-ibu kami makin “on” dong dalam melihat jurang harga udang antara Bombana dan Kendari.

Karena saya membawa cuan pas-pas-an, sehingga saya membeli udang tidak terlalu banyak. Pelan-pelan penyesalan menjalari hati saya. Ya kaliiiiii kabur ke Kota orang nekat banget sih bawa cuan dikit? Gak modal banget yee? wkwkwkwk.

Meratapi penyesalan karena tak banyak membawa udang pulang ke Kendari, saya menepi ke bibir pelabuhan. Sambil berdoa, next time bakalan kesini lagi, membawa cuan-cuan termasuk cuan suami dan membawa udang bergabus-gabus! hahaha.

Setelah puas belanja udang, kami memutuskan kembali ke Kendari. Hanya udang, ikan ada sih tapi kecil-kecil dan harganya pun tak jauh berbeda dari harga Kendari. Ya sud, mending udang ajah, lumayankan kalau dijual dengan harga yang luar biasa, hahaha.

Waktu Bombana menunjukkan pukul 04.00 sore. Langit semakin menggelap dan dingin mulai menjalari tubuh kami. Waktunya kembali ke Kendari. Karena perjalanan sekitaran 4 jam lamanya, sehingga kami tak bisa berlama-lama di Bombana. Walau sejujurnya, kaki ini enggan untuk kembali ke Kendari. Pengen mengeksplore Bombana lebih banyak lagi.

Saya yang sejak hari senin bawelnya minta dijewer lantaran masih esmosyen gegara kasus tigabelas Desember, setelah ngetrip ke Bombana berasa beban dipundak lumayan berkurang. Kekesalan akibat kejadian kemaren perlahan memudar.

Bombana, salah satu tempat self healing terbaik sih menurut saya. Karena kenapa? di Bombana, kamu bisa melihat gunung, sawah dan lautan secara bersamaan. Tengok ke kiri nemu gunung yang membentang tinggi menggapai angkasa, tengok ke kanan hamparan birunya laut Bombana yang membuat pikiran kamu menjadi tenang. Lalu sepanjang jalan, banyak sawah yang seolah memanggil kamu untuk menetap dan berpindah kependudukan.

Disaat keinginan itu besar memenuhi isi pikiran, sisi hati menyerukan nama Ucup yang pasti kini sedang menanti emaknya yang self healing dari Bombana dan membawa ole-ole.

Bombana, sampai bertemu dilain kesempatan! Tunggu saya! 😉

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Raaaaaaaya (@rayamakyus)

Salam sayang,

Raya.

(Visited 1 times, 1 visits today)
%d blogger menyukai ini: